Pada malam itu suasana di sebuah aula masih tenang. Sedikit waktu
lagi tamu akan berdatangan. Karena tidak ada bulan, maka gelap gulitalah
ruangan itu. Dalam keadaan yang sepi lagi gelap inilah korek api
mendekati lilin yang masih utuh itu, katanya:
“Kini tibalah saatnya aku harus menyalakan dikau.” Terkejutlah si
lilin mendengar pembicaraan korek api itu lalu ia menyahut, “Jangan
dulu. Api akan menyakiti saya. Oleh panasnya api, badan saya yang bagus
ini akan meleleh dan hancur. Kasihan.”
Lalu si korek api bertanya, “Bagaimana? Apakah seumur hidup engkau ingin kaku dan dingin, tanpa sungguh bergairah?”
“Tetapi bernyala pasti menyakiti saya dan menghabiskan tenaga saya,”
berbisiklah si lilin dengan jantung berdebar-debar ketakutan.
“Benar juga apa yang kau katakan,” sahut si korek, “tetapi bukankah
kita dipanggil untuk menjadi cahaya? Apa yang dapat aku lakukan,
sebenarnya sangat sedikit sekali. Aku hanya bisa menyalakan dikau. Lalu
tamatlah riwayat hidupku. Namun kalau aku tidak menyalakan dikau hidupku
menjadi hampa dan tanpa arti. Engkau adalah sebatang lilin. Engkau
harus menyinarkan cahayamu bagi orang. Segala rasa sakit dan tenaga yang
terkuras akan menjadi cahaya bagi orang. Dengan demikian hidup
mempunyai arti. Sebaliknya, kalau tetap kaku dan utuh, tujuan hidupmu
tidak tercapai.”
Setelah mendengar nasihat dari korek api si lilin menegakkan sumbunya
lalu berkata, “Silakan, nyalakanlah saya.” Ketika orang masuk ke dalam
ruangan itu, mereka bergembira melihat cahaya lilin yang manis itu.
Barangsiapa mengorbankan diri bagi kebahagiaan orang lain, maka ia akan memperoleh lebih dari yang sudah dikorbankannya
sumber : Kaskus
0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.