Kekerasan Seksual pada anak

Istilah pacaran sungguh sangat tidak asing di masa sekarang ini. Bahkan anak usia SD pun sudah nampak sangat fasih bicara soal pacaran. Mungkin ini akibat maraknya lagu menyebutkan kata cinta, pacar, sayang, dan lain sebagainya

Surat Untuk Nona Rambut Tabongkar 2

Teruntuk beta pung Nona rambut tabongkar tersayang... Apa kabar, sayang? Entah ini hari yang ke berapa katong su sonde saling bertegur sapa. Ya. Bukan waktu yang lama memang, tapi su cukup untuk membuat beta merindukan senyum dan sapaan hangat dari nona.

Kamu pasti tau kenapa ini tercipta....

SEPI bukan berarti HILANG... DIAM bukan berarti LUPA... JAUH bukan berarti PUTUS... SENDIRI bukan berarti MATI... Yang pasti saat MATI, tentu SENDIRI....

Pada Suatu Hari....

Pasti akan ada satu hari. Di mana kamarku mendadak senyap. Tanpa celotehan dan suara nada dering ponsel, serta tak ada lagi suara dari putaran kipas angin laptop.

Belajar dari Lentera Alam Learning Community for Women and Children

Kemarin perempuan muda, cantik dan bersahaja itu berkata pada saya, "tak harus mengeluarkan banyak uang untuk bisa membahagiakan dan menyenangkan anak-anak

Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Januari 2014

Tentang GUS DUR


Oleh : Saras Dewi

Pada tahun 1999, setahun paska reformasi bergulir, saya berkesempatan berkunjung ke Jalan Irian Menteng bersama kolega/teman-teman pergerakan. Disanalah saya pertama kali bertemu dengan Gus Dur. Saya masih 16 tahun, tapi Ayah saya sudah memberitahu saya sebelumnya bahwa orang yang duduk bersama saya adalah orang yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Sedari muda saya sudah paham, mengapa Gus Dur sangat berarti bagi perubahan di Indonesia.

Pertemuan dengan Gus Dur malam itu merubah hidup saya. Karena beliau saya percaya bahwa Indonesia punya kesempatan untuk menjadi bangsa maju, menjadi bangsa yang kaya akan kultur, budaya, agama dan dapat saling hidup berdampingan. Semasa beliau menjabat menjadi presiden menurut saya hanya kebaikan yang secara maksimal ia berikan, banyak orang mencibir administrasi beliau, tapi untuk saya dialah Presiden yg tepat semasa itu. Ia mengesahkan rekognisi terhadap agama Konghucu, beliaulah yang berani menyatakan bahwa etnis TiongHoa kini dapat berbangga diri menjadi bagian bangsa Indonesia ketika perayaan Imlek dijadikan hari libur nasional. Ia memecat Jend. TNI Wiranto yang memiliki dakwaan pelanggar HAM dari International Human Rights Tribunal. Ia mencabut tentara-tentara dari daerah operasi militer seperti di Aceh dan Irian. Beliau membuka dialog dengan Irian Jaya dan dengan diplomatik mengatakan bahwa mereka bebas menggunakan term 'Papua'.

Gus Dur adalah seorang pemberontak yang humoris, ketika musuh-musuh politiknya memperolok dan mengancamnya, dengan gaya yang berkelas ia hanya mengatakan, "Gitu aja kok repot?"

Gus Dur bukanlah semata-mata seorang tokoh masyarakat yang bijaksana, tapi beliau juga seorang Ayah dan Suami yang sempurna. Saya tahu ini, karena saya menyaksikan bagaimana ia mendidik anak-anaknya. Salah satu putrinya, Inayah Wahid adalah sahabat saya, kami kerap bekerja sama dalam organisasi 'Gerakan Positif' untuk menumbuhkembangkan pluralisme di Indonesia. Saya merasa sangat bersyukur dapat terlibat di dalam kegiatan Wahid Institute, para aktivis Muslim ini memberikan saya harapan, bahwa perdamaian bukanlah konsep belaka, tetapi suatu proses, bila kita berkemauan keras dan tegar dalam mewujudkannya.

Dalam acara ulang tahun Ibu Shinta Nuriyah, istri dari Gus Dur, saya diminta untuk memimpin doa mewakili umat Hindu. Dengan bahagia saya menerima undangan tersebut, saya membacakan Gayatri Mantram dan mendoakan kesehatan dan kebahagiaan Ibu Shinta. Ibu Shinta memuji doa umat Hindu dengan mengatakan bahwa bahasa sansekerta sedemikian indahnya. Saya terharu, karena Gus Dur dan Ibu Shinta begitu menghargai komunikasi antar agama, ini menjadi penyemangat saya.

Ketika FPI mengancam membakar gereja dan melakukan pemberontakan sipil, Gus Dur-lah beserta pemuda NU yang menjaga gereja-gereja tersebut, beliaulah yang berani berkata benar dan bertindak melawan yang dzalim. Saya merasa kehilangan sekali, tetapi saya teringat di dalam kitab suci Veda, meski sekarang saya patah semangat dan menangis, saya teringat Veda yg mengatakan bahwa meski seorang murid berduka atas kematian gurunya, hal yang lebih penting untuk dilakukan adalah meneruskan perjuangan sang guru.

Saya berharap sekali segenap rakyat Indonesia dapat meresapi ajaran Gus Dur dan meneruskan cita-citanya.

"Wa 'Udkhila Al-Ladhīna 'Āmanū Wa `Amilū Aş-Şāliĥāti Jannātin Tajrī Min Taĥtihā Al-'Anhāru Khālidīna Fīhā Bi'idhni Rabbihim Taĥīyatuhum Fīhā Salāmun"

I Love You Full Gus,

yys.


Sumber : facebook

Kamis, 24 Oktober 2013

Terkutuk

Pagi.ini seperti yang sering terjadi, setiap aku melewati rumahnya, anak perempuan dari tetangga depan rumahku yang berwajah malaikat itu, selalu menyapaku dengan manis, kali ini ia tidak hanya menyapa namun ia datang mendekat dan bertanya,”apa arti terkutuk itu?” Aku sungguh tak tahu mesti menjawab apa, maka aku cuma bisa balas bertanya, ”kenapa kau tanyakan itu?” Si anak berwajah malaikat menjawab,”karena aku ingin tahu”, sambil tersipu, senyumnya bagai cahaya bintang. Aku cuma bisa diam, dan terus berpikir, belum juga kutemukan jawaban tepat.
Maka kupikir aku mesti bertanya lagi,”darimana kau dengar kata itu?”.
“TV”. Jawabanmu justru membuatku lega,bukan mereka yang bilang padamu.

Minggu, 11 November 2012

ANDREAS, SI TUKANG PARKIR

PEKERJAAN ADALAH RAHMAT TUHAN

Setiap hari dia ada di tepi jalan raya. Tetapi, dia bukan anak jalanan. Dia juga bukanlah polisi lalu-lintas. Dia hanyalah seorang tukang parkir. Oleh teman-teman sejawatnya, pria ini biasa disapa Andreas. Dari pria kelahiran Soe, 36 tahun lalu inilah, kisah ini bermula.

Aisah Muhammad

Perjalanan hidup telah mengantarnya ke tempat ini. Tepatnya di halaman Toko Bali Shoes Kupang. Dulu, setelah menamatkan pendidikan di SMA, Andreas mengikuti Tes Polisi. Dua kali tes itu diikuti. Tapi, dewi fortuna belum berpihak kepadanya.
Andreas lalu mengikuti Tes Satpam. Dua kali juga tes ini diikutinya. Tapi, lagi-lagi keberuntungan seakan menjauhinya. Andreas tetap saja tidak lulus. Maka pada tahun 1995, pria berkulit hitam manis ini memutuskan untuk menjadi Tukang Parkir. Sebuah pekerjaan yang tentunya membutuhkan pengorbanan fisik yang tidak main-main.
Memang, sudah 17 tahun Andreas menekuni profesinya ini. Tapi, tak ada kata menyerah. Apalagi kapok lalu meninggalkan pekerjaan kasar ini. Baginya, setiap pekerjaan adalah rahmat dari Tuhan. Tinggal bagaimana kita mencintai pekerjaan tersebut. Maka, pekerjaan tersebut akan balik mencintai kita. “Kalau sudah begitu, seberat dan sesulit apapun pekerjaan yang kita kerja, dapat kita selesaikan dengan baik. Dan akan mendatangkan hasil yang baik pula buat kita,” ungkapnya.
Dari pekerjaan sederhana ini, pria yang telah memiliki tiga anak ini mampu memenuhi semua kebutuhan rumah tangganya. Juga keperluan sekolah anak-anaknya. “Ya, dengan penghasilan begini pas-paslah kita penuhi kebutuhan. Pas untuk bisa makan minum. Juga buat urus anak to,” akunya.
Pengorbanan Andreas pantaslah diacungi jempol. Betapa tidak, setiap hari dia harus bekerja selama 8 jam. Mulai dari jam 10 pagi dan berhenti sejenak pada jam 2 sore. Jam 5 sore, Andreas kembali melanjutkan tugasnya hingga jam 9 malam.
Jika dikalkulasikkan secara jujur, jumlah jam kerjanya melampaui jam kerja seorang pegawai negeri sekali pun. Karena tak ada kata libur baginya dalam sepekan. Meski begitu, gajinya tak sebanding dengan banyaknya keringat yang ia teteskan.
Belum lagi banyak hambatan yang ditemukan di tempat kerjanya. Ketika menghadapi para pemilik kendaraan, para pengguna jalan, serta para sopir kendaraan yang selalu memandang sepele pada dirinya.
Tetapi, berkat semangat dan keluhuran niat, Andreas pantang menyerah. Selalu berpikir positif, pandai menahan amarah dan selalu tersenyum adalah jurus-jurus jitu  yang senantiasa dia gunakan dalam meluluhkan hati setiap orang yang dihadapinya. 
Dengan seragam rompi biru, sebuah topi lusuh, sebuah pluit dan sebuah tongkat setengah meter, Andreas mulai memandu jalannya rute parkir. Layaknya seorang polisi yang mengatur jalannya arus lalu-lintas, Andreas tak segan mengomandokan berhenti dan maju bagi setiap kendaraan yang di depannya.
Setiap kendaraan yang mulai memarkir kendaraan di area kerjanya, dia mulai mengatur posisi masuk. Lalu memberikan secarik karcis seharga Rp. 1.000. Menyilakan pemilik kendaraan berlalu. Menjaga keberadaan dan keselamatan kendaraan adalah bagian dari tanggung jawabnya yang tidak mudah. Karena letak area parkir adalah di tepi jalan persis di muka toko.
Kendati berat pekerjaan yang dihadapi, pria paruh baya ini punya mimpi yang besar. “Saya kan tamat SMA saja to. Jadi saya punya mimpi saya punya anak-anak bisa sarjanalah. Itu juga sudah jadi prinsip saya. Supaya dia bisa lebih dari dia punya bapak,” tegasnya dengan nada sedikit berkelakar.
Bila diperhatikan, sinar di matanya tak dapat menyembunyikan, betapa dia adalah suami yang bertanggung jawab bagi istrinya. Juga sebagai bapak yang bertanggung jawab atas masa depan anak-anaknya. Semoga mimpi dan harapannya tercapai.


Selasa, 10 Januari 2012

Terima kasih Ibu Sud


" Tik tik tik bunyi hujan di atas genting
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua"


Puji Tuhan, pagi ini beta dengar Gilbert bisa nyanyi lagu di atas, betapa senangnya beta mendengernya (memang tak sefasih teks di atas). Dari beberapa bulan yang lalu Gilbert paling senang sama lagu ini. Apalagi kalo sudah datang hujan. Yang dekat, dia pasti langsung minta dinyanyikan (waktu blum hafal).

Sekarang setelah mulai
hafal lagu itu, kalau lagi kepengen pasti langsung nyanyi. Lagi mandi, ganti baju, lagi main... hihihihihh lucuuu. Kadang2 malah lupa sendiri dia, tak hafal yg belakang2 nya :D. Senang lihat Gilbert semakin hari makin pintar :).Terimakasih Ibu Sud...atas lagu yang indah ini..:)




Tik tik tik bunyi hujan di atas genting
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua


Tik tik tik bunyi hujan bagai bernyanyi
Saya dengarkan tidaklah jemu
Kebun dan jalan semua sunyi
Tidak seorang berani lalu


Tik tik tik hujan turun dalam selokan
Tempatnya itik berenang-renang
Bersenda gurau meyelam-nyelam
Karena hujan berenang-renang

Minggu, 11 Desember 2011

Mengenang Sondang Hutagalung


Api itu sudah terlanjur tersulut
membakar habis tubuh muda
hingga melepuh dan menyayat
di depan istana penguasa

tuan…..hanya dengan tubuh yang berlumuran bensin
anak muda itu menyulut api perlawanan di depan mu
ia mewakili saya dan banyak orang yang sudah kau kecewakan
sayangnya kau masih tetap jaim dan menipu

baiklah….kau boleh bilang anak muda itu mati konyol
tapi kematiannya justru membuat kau terlihat tolol
nama anak muda itu akan segera dilupakan dalam beberapa hari
namun api itu sudah terlanjur tersulut di sanubari

tuan, perlawanan dan mengorbankan nyawa, sudah biasa
namun kali ini lain karena ini hanya memberimu peringatan
agar segeralah untuk berbenah atau pergi dari istana
karena api sudah berkobar di mana-mana untuk bangkit melawan

oepoera....Medio Desember 2011