Kekerasan Seksual pada anak

Istilah pacaran sungguh sangat tidak asing di masa sekarang ini. Bahkan anak usia SD pun sudah nampak sangat fasih bicara soal pacaran. Mungkin ini akibat maraknya lagu menyebutkan kata cinta, pacar, sayang, dan lain sebagainya

Surat Untuk Nona Rambut Tabongkar 2

Teruntuk beta pung Nona rambut tabongkar tersayang... Apa kabar, sayang? Entah ini hari yang ke berapa katong su sonde saling bertegur sapa. Ya. Bukan waktu yang lama memang, tapi su cukup untuk membuat beta merindukan senyum dan sapaan hangat dari nona.

Kamu pasti tau kenapa ini tercipta....

SEPI bukan berarti HILANG... DIAM bukan berarti LUPA... JAUH bukan berarti PUTUS... SENDIRI bukan berarti MATI... Yang pasti saat MATI, tentu SENDIRI....

Pada Suatu Hari....

Pasti akan ada satu hari. Di mana kamarku mendadak senyap. Tanpa celotehan dan suara nada dering ponsel, serta tak ada lagi suara dari putaran kipas angin laptop.

Belajar dari Lentera Alam Learning Community for Women and Children

Kemarin perempuan muda, cantik dan bersahaja itu berkata pada saya, "tak harus mengeluarkan banyak uang untuk bisa membahagiakan dan menyenangkan anak-anak

Tampilkan postingan dengan label saya dan musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label saya dan musik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Desember 2013

I love my Evlyn Lea Jacob - Balukh....

Mama itu... Paling susah kalo dideskripsikan dgn kata-kata. But, Happy mother's day! Sayangi mama kalian selagi ia masih ada untuk kalian, bagiku hari ibu adalah setiap hari..
I love my Evlyn Lea Jacob - Balukh ♥

Buat kamu, maaf ada 2 sms ucapan yang masih pending x_x
Selamat hari ibu ya, terberkatilah semua ibu, titip salam, cium dan peluk buat ibu di batam ({}) ({})

mungkin lagu bang Iwan Fals ini bisa mewakili perasaanku saat ini....
ini liriknya :

Ibu by Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...
Ibu
Ibu

Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu

Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...
Ibu
Ibu

Sabtu, 14 Desember 2013

Terimakasih black bird....

Seminggu sebelum mama harus dirawat intensif di ruang ICCU RSUD Prof. W.Z. Johanes Kupang, karena pembengkakan jantung. Seorang sahabat, Ambara Saraswati Mardani, memposting salah satu lagu favorit saya, “Negeri di Awan” miliknya Katon Bagaskara, di akun facebooknya. Postingan tersebut dinyanyikan sendiri oleh sahabat saya itu. Suara tipis dan tajam dari sahabat saya ini, serta musikalitas dari seorang Ivan Bartels membuat lagu tersebut terdengar semakin indah dan menusuk hingga sumsum.

Oh iya, ini liriknya:

Di bayang wajahmu
kutemukan kasih dan hidup
yang lama lelah aku cari
di masa lalu
Kau datang padaku
kau tawarkan hati nan lugu
selalu mencoba mengerti
hasrat dalam diri
Kau mainkan untukku
sebuah lagu
tentang negeri di awan
di mana kedamaian menjadi istananya
dan kini tengah kau bawa
aku menuju kesana oh.. hoo
Ternyata hatimu
penuh dengan bahasa kasih
yang terungkapkan dengan pasti
dalam suka dan sedih

Nyanyian tersebut menemani saya selama menjaga mama yang hampir 2 minggu dirawat di RSUD. Lagu ini  meski tak menggunakan langsung kata "ibu", menurut saya lagu "Negeri di Awan" ini berkisah tentang seorang ibu. Majas-majas digunakan untuk menggambarkan mengenai ibu, membuat lagu ini indah sekali. Terimakasih black bird, atas lagu dan suara indahnya....

JIka ingin mendengar suara sahabat saya ini, bisa DOWNLOAD DI SINI

Rabu, 13 November 2013

Close to you...

Barusan, iseng aku memeriksa daftar playlist di winamp player, tak disangka menemukan sebuah lagu yang sudah sangat lama tidak aku dengarkan. Judulnya, Close to you milik grup band jadul Carpenters.

Entah sejak kapan lagu ini masuk dalam daftar playlistku yang pasti sudah lama dan sudah jarang lagu ini diputar. Pertama kali mendengar lagu ini aku langsung jatuh cinta pada lagu ini, selain karena liriknya yang asoy....suara dan musik jazz dan swing dari grup band ini keren sangat :) tidak percaya??? buktikan saja sendiri...nih videonya


Barusan iseng aku coba cari di google, barangkali saja ada versi lain dari lagu ini....eh ternyata benar, ada versi yang dinyanyikan oleh penyanyi singapura, corrine may, yang tak kalah bagusnya, dan bahkan menurutku jazzy dan swing lebih empuk dari penyanyi aslinya..i love ths version...hehehehe....lagu ini tiba-tiba mengingatkanku pada seseorang yang sempat sepintas hadir dalam hidupku...sepintas namun sangat berarti....mellow ahhh....:'(



Ini liriknya...

Why do birds suddenly appear
Every time you are near?
Just like me, they long to be
Close to you.

Why do stars fall down from the sky
Every time you walk by?
Just like me, they long to be
Close to you.

* On the day that you were born
The angels got together
And decided to create a dream come true
So they sprinkled moon dust in your hair of gold
And starlight in your eyes of blue.

+ That is why all the girls in town
Follow you all around.
Just like me, they long to be
Close to you.

Jumat, 01 November 2013

Just call my name and i'll be there....


Mengenang Sang Legenda.....Jacko
Download Lagu One Day in your life



Lewat tulisan ini, saya hanya ingin mengenang salah satu seniman dunia yang telah lama berkiprah di jagad raya seni musik.

Rabu, 23 Oktober 2013

Daniel Sahuleka, Nyong Ambon Yang Mendunia....

Download Lagu Don't Sleep Away This Night --->

Daniel Sahuleka
(lahir di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, 6 Desember 1950; umur 62 tahun) adalah seorang penyanyi Belanda yang berdarah Ambon, Indonesia. Ia tinggal di Winterswijk. Bakat menyanyinya dicuatkan oleh Rudy Bennett. Daniel tidak banyak menerbitkan album. Beberapa lagunya yang terkenal di Indonesia, antara lain: You Make My World So Colorful yang muncul pada awal 1980-an sebagai salah satu lagu dalam album Daniel Sahuleka (1977) dan "Don't Sleep Away The Night" yang merupakan singel album dengan judul yang sama pada tahun 1978. Pada awal kariernya sebagai penyanyi rekaman, Daniel bernaung di bawah Polydor (Belanda).

Rabu, 29 Desember 2010

Tahukah Anda, bahwa Lagu Kulihat Ibu Pertiwi itu Karya Jiplakan?

Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati, air matamu berlinang mas intanmu terkenang, hutan gunung sawah lautan simpanan kekayaan, kini ibu sedang susah merintih dan berdoa,
Siapa pencipta lagu yang berjudul Ibu Pertiwi ini? Pasti jawabannya tidak tahu. Tahukah Anda pula, kalau lagu ini karya jiplakan? Perbuatan yang memalukan bangsa kita karya plagiat ini justru diterima sebagai LAGU NASIONAL dan diajarkan secara resmi di sekolah sejak SD sampe mahasiswa.
Lagu ini (nada, irama, birama, notasi, dll kecuali liriknya) sama persis dengan lagu gerejawi yang dua kali diterjemahkan dari karya Charles Crozart Converse (1868), komposer Amerika Serikat (1832-1918). Lirik berjudul 'What a friend we have in Jesus', karya Joseph Medlicott Scriven (1855).
Terjemahan bahasa Indonesianya pertama kali dilakukan oleh C.Ch.J, Schreuder dan L.J.M. Tupamahu (awal 1900-an?) dan masuk dalam Nyanyian Dua Sahabat Lama (Nomor 201). Lalu diterjemahkan lagi oleh Yayasan Musik Gereja tahun 1975, dan menjadi lagu gereja di Indonesia dalam buku Kidung Jemaat (Nomor 453).
Siapa sih pencipta (baca: plagiator) lagu yang kemudian menjadi lagu nasional Indonesia ini? Abdullah Kamsidi (http://komponiskamsidi.multiply.com/journal/item/1/Sejarah_musik_kota_Solo) menulis bahwa pencipta lagu Ibu Pertiwi adalah komponis asal Solo, Kamsidi Samsuddin. Andaikan benar si Kamsidi Samsuddin penciptanya, maka perlu dipertanyakan julukan komponisnya. Karena itu, pemerintah harus mencabut lagu Kulihat Ibu Pertiwi dari daftar lagu-lagu nasional. Jika tidak, kita tidak perlu salahkan bangsa Malaysia menjiplak karya bangsa kitai, karena kita sendiri bangsa penjiplak.

ini lirik lagunya :

Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa

Kulihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu
Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa
sumber : http://id.shvoong.com/law-and-politics/criminal-law/

Sejarah Lagu “Malam Kudus”

Kita tentu akan merasa sesuatu yang kurang kalau ada perayaan Natal  tanpa menyanyikan “Malam Kudus,” bukan? Terjemahan-terjamahan lagu Natal kesayangan itu sedikit berbeda satu dari yang lainnya, namun semuanya hampir serupa. Hal itu berlaku juga dalam bahasa-bahasa asing. Lagu itu begitu sederhana, sehingga tidak perlu ada banyak selisih pendapat atau perbedaan kata dalam menterjemahkannya. “Malam Kudus” sungguh merupakan lagu pilihan, karena dinyanyikan dan dikasihi di seluruh dunia. Bahkan musikus ternama rela memasukkannya pada acara konser dan piringan hitam mereka.
Anehnya, nyanyian yang terkenal di seluruh dunia itu sesungguhnya berasal dari sebuah desa kecil di daerah pegunungan negeri Austria.
Inilah ceritanya….
Orgel di gereja desa Oberndorf sedang rusak. Tikus-tikus sudah mengunyah banyak bagian dalam dari orgel itu. Seorang tukang orgel telah dipanggil dari tempat lain. Tetapi menjelang Hari Natal tahun 1818, orgel itu masih belum selesai diperbaiki. Sandiwara Natal terpaksa dipindahkan dari gedung gereja, karena bagian- bagian orgel yang sedang dibetulkan itu masih berserakan di lantai ruang kebaktian.
Tentu tidak ada seorang pun yang mau kehilangan kesempatan melihat sandiwara Natal. Pertunjukan itu akan dipentaskan oleh beberapa pemain kenamaan yang biasa mengadakan tour keliling. Drama Natal sudah menjadi tradisi di desa itu, sama seperti di desa-desa lainnya di negeri Austria.
Untunglah, seorang pemilik kapal yang kaya raya mempunyai rumah besar di desa itu. Ia mengundang para anggota gereja untuk menyaksikan sandiwara Natal itu di rumahnya. Tentu saja Josef Mohr, pendeta pembantu dari gereja itu, diundang pula.
Pada malam tanggal 23 Desember, ia turut menyaksikan pertunjukan di rumah orang kaya itu. Sesudah drama Natal itu selesai, Pendeta Mohr tidak terus pulang. Ia mendaki sebuah bukit kecil yang berdekatan. Dari puncaknya ia memandang jauh ke bawah, dan melihat desa di lembah yang disinari cahaya bintang yang gemerlapan. Sungguh malam itu indah sekali…. malam yang kudus….malam yang sunyi….
Pendeta Mohr baru sampai ke rumah tengah malam. Tetapi ia belum juga siap tidur. Ia menyalakan lilin, lalu mulai menulis sebuah syair tentang apa yang telah dilihatnya dan dirasakannya pada malam itu.
Keesokan harinya pendeta muda itu pergi ke rumah temannya. Franz Gruber, yang masih muda, adalah kepala sekolah di desa Arnsdorf, yang terletak tiga kilometer jauhnya dari Oberndorf. Ia pun merangkap pemimpin musik di gereja yang dilayani oleh Josef Mohr.
Pendeta Mohr lalu memberikan sehelai kertas lipatan kepada kawannya. “Inilah hadiah Natal untukmu,” katanya, “sebuah syair yang baru saja saya karang tadi malam.”
“Terima kasih, pendeta!” balas Franz Gruber.
Setelah mereka berdua diam sejenak, pendeta muda itu bertanya: “Mungkin engkau dapat membuat lagunya, ya? “
Franz Gruber senang atas saran itu. Segera ia mulai bekerja dengan syair hasil karya Josef Mohr.
Pada sore harinya, tukang orgel itu sudah cukup membersihkan ruang kebaktian sehingga gedung gereja dapat dipakai lagi. Tetapi orgel itu sendiri masih belum dapat digunakan.
Penduduk desa berkumpul untuk merayakan malam Natal. Dengan keheranan mereka menerima pengumuman, bahwa termasuk pada acara malam itu ada sebuah lagu Natal yang baru.
Franz Gruber sudah membuat aransemen khusus dari lagu ciptaannya — untuk dua suara, diiringi oleh gitar dan koor. Mulailah dia memetik senar pada gitar yang tergantung di pundaknya dengan tali hijau. Lalu ia membawakan suara bas, sedangkan Josef Mohr menyanyikan suara tenor.
Paduan suara gereja bergabung dengan duet itu pada saat-saat yang telah ditentukan. Dan untuk pertama kalinya lagu “Malam Kudus” diperdengarkan.
Tukang orgel turut hadir dalam kebaktian Malam Natal itu. Ia senang sekali mendengarkan lagu Natal yang baru. Mulailah dia bersenandung, mengingat not-not melodi itu dan mengulang-ulangi kata-katanya. “Malam Kudus” masih tetap bergema dalam ingatannya pada saat ia selesai memperbaiki orgel Oderndorf, lalu pulang.
Sekarang masuklah beberapa tokoh baru dalam ceritanya, yaitu: Strasser bersaudara. Keempat gadis Strasser itu adalah anak-anak seorang pembuat sarung tangan. Mereka berbakat luar biasa di bidang musik. Sewaktu masih kecil, keempat gadis cilik itu suka menyanyi di pasar, sedangkan ayah mereka menjual sarung tangan buatannya. Banyak orang mulai memperhatikan mereka, dan bahkan memberi uang atas nyanyiannya.
Demikian kecilnya permulaan karier keempat gadis Strasser itu, hanya sekedar menyanyi di pasar. Tetapi mereka cepat menjadi tenar. Mereka sempat berkeliling ke banyak kota. Yang terutama mereka tonjolkan ialah lagu-lagu rakyat dari tanah air mereka, yakni dari daerah pegunungan negeri Austria.
Tukang orgel tadi mampir ke rumah keempat Strasser bersaudara. Kepada mereka ia nyanyikan lagu Natal yang baru saja dipelajarinya dari kedua penciptanya di gereja desa itu.
Salah seorang penyanyi wanita menuliskan kata-kata dan not-not yang mereka dengarkan dari tukang orgel teman mereka. Dengan berbuat demikian mereka pun dapat menghafalkannya.
Keempat wanita itu senang menambahkan “Malam Kudus” pada acara mereka. Makin lama makin bayak orang yang mendengarnya, sehingga lagu Natal itu mulai dibawa ke negeri-negeri lain pula.
Pernah seorang pemimpin konser terkenal mengundang keempat kakak-beradik dari keluarga Strasser itu untuk menghadiri konsernya. Sebagai  atraksi penutup acara yang tak diumumkan sebelumnya, ia pun memanggil keempat wanita itu untuk maju ke depan dan menyanyi. Antara lain, mereka menyanyikan “Malam Kudus,” yang oleh mereka diberi judul “Lagu dari Surga.”
Raja dan ratu daerah Saksen menghadiri konser itu. Mereka mengundang rombongan penyanyi Strasser itu untuk datang ke istana pada Malam Natal. Tentu di sanapun mereka membawakan lagu “Malam Kudus.”
~ Anonymous
Silent night! holy night!
All is calm, all is bright;
Round yon virgin mother and Child,
Holy Infant, so tender and mild
Sleep in heavenly peace, sleep in heavenly peace.
Silent night! holy night!
Shepherds quake at the sight;
Glories stream from heaven afar;
Heav’nly hosts sing alleluia
Christ the Saviour is born!
Christ the Saviour is born!
Silent night! holy night!
Son of God, love’s pure light
Radiant beams from Thy holy face
With the dawn of redeeming grace
Jesus, Lord at Thy birth,
Jesus, Lord at Thy birth.
—————————
*Sumber : http://www.gkigadser.org/index.php?option=com_content&view=article&id=118:sejarah-lagu-qmalam-kudusq&catid=45:komisi-musik-gereja&Itemid=78

Sejarah lagu “AMAZING GRACE” – John Newton (1725 – 1807)

Kebanyakan orang yang menyanyikan pujian: “Anug’rah yang menakjubkan, betapa indah kedengarannya, yang menyelamatkan sampah (wretch: good for nothing, devil, never do well, villain, rascal, rouge, …. MW Dictionary) seperti saya,” tidak lagi memiliki perasaan yang sama seperti yang dirasakan John Newton pada saat itu. Dan jika pernah ada sampah yang pernah diselamatkan secara luar biasa oleh anugerah Tuhan, maka orang yang menulis kalimat ini, menuliskannya sebagai suatu pernyataan pribadi.
John Newton, lahir di London, anak seorang kapten kapal yang sangat dihormati, pada awalnya mendedikasikan diri kepada pelayanan Kristen, akibat ibunya yang sangat taat. Pelatihan keagamaannya bermula pada masa kecil dan ketika dia berusia 4 tahun, dia dapat dengan lancar menghafalkan bait-bait dari Katekismus Wesminster dan lagu-lagu pujian karangan Isaac Watts.
Ketika berusia 11 tahun, dia berlayar ke Mediterania bersama ayahnya, tetapi pada usia 17 tahun, dia meninggalkan semua atribut keagamaannya dan beralih pada penyembahan kepada iblis. Hanya karena kekasihnya Mary Catlett, yang dicintainya sejak 1742, tapi akhirnya baru dinikahi tahun 1750, yang menyinarkan sedikit cahaya kemanusiaan dalam hatinya. Dia meninggalkan kapalnya, dan dibawa kembali seperti seorang tawanan. Sangat besar hukuman yang harus ditanggungnya, hingga dia berencana untuk melakukan bunuh diri, hanya karena cintanya yang sangat besar kepada Mary, yang tetap membuatnya bertahan.
Setelah menjalani masa hukumannya, dia memulai suatu karier yang begitu keji, hingga teman-temannya mulai meragukan akal sehatnya. Tinggal bersama beberapa waktu di antara para pedagang budak di Sierra Leone, dia diperlakukan sangat buruk oleh istri majikannya, seorang Portugis berkulit hitam. Belakangan kemudian, dia berkata,”Jika Anda pernah melihat saya begitu dalam mimpi buruk, dan malam hari sendiri mencuci pakaian saya di bebatuan, setelah itu mengenakannya walau masih basah, agar dapat kering di punggung saya ketika saya tidur; jika Anda pernah melihat saya sebagai seseorang yang begitu miskin yang ketika sebuah kapal berlabuh di pulau, malu kadang mendatangi saya hingga saya ingin menyembunyikan muka saya dibalik pepohonan, menghindari tatapan mata orang-orang asing; jika Anda tahu bahwa tingkah laku saya, prinsip hidup saya, dan hati saya masih lebih hitam dari kondisi fisik saya – betapa sangat kecil kemungkinan Anda akan membayangkan bahwa seseorang seperti itu dijaga dengan begitu baik dengan providensi dan kebaikan yang luar biasa oleh Allah.” Kemudian ditambahkan, ”Satu-satunya keinginan baik yang tersisa hanyalah kembali ke Inggris dan menikahi Mary.”
Setelah dipermalukan dan penderitaan yang berlanjut, dia berada di atas sebuah kapal yang menuju ke Inggris, menghabiskan beberapa hari yang sepi di laut membaca “Imitation of Christ (Thomas A. Kempis).” Ketika sebuah badai besar mengamuk, dia menganggap dirinya seperti Yunus yang menjadi penyebab dan kutukan atas kehidupannya yang sangat rusak, atas angin yang luar biasa dan gelombang setinggi gunung yang mengancam kapal tersebut untuk karam. Tiba-tiba sebuah badai besar menghantam jiwanya. Dengan kesadaran yang telah dibangkitkan dia menganggap hari tersebut, 10 Maret 1748, sebagai hari ‘ulang tahun’ rohaninya.
“Saya menangis memohon kepada Tuhan dengan tangisan seperti pekikan yang muak didengarkan, tetapi tidak ditolak oleh Allah,” dia berkata. “Dan saya mengingat Yesus yang begitu sering saya acuhkan.”Tetapi perubahan yang terjadi saat itu, hanyalah sebuah reformasi dari seseorang yang belum percaya. Selama 6 tahun berikutnya dia melakukan beberapa perjalanan dengan kapal yang dimilikinya, dengan membawa beberapa barang, bahkan budak-budak di beberapa kesempatan. Hingga ketika dia tiba di Liverpool tahun 1754, barulah dia menjadi orang Kristen yang lahir baru. Tetapi belum juga dia menyadari diri untuk terjun ke dalam suatu pelayanan yang telah dipersiapkan ibunya sejak dahulu. Secara bertahap dia mulai memusatkan segalanya kepada Kristus, dengan harapan bahwa suatu saat dia akan tertebus untuk dipanggil melayani Kristus. Setalah dua kali secara ajaib terselamatkan dari kematian, dana beberapa tahun belajar dan latihan yang sulit, dia diangkat sebagai pejabat kerasulan di Church of England pada bulan 16 Desember 1758.
Enam tahun kemudian dia pergi ke Olney, dimana dia diurapi menjadi seorang diaken dan pendeta.  Kebersamaannya dengan William Cooper menghasilkan diterbitkannya buku mereka berjudul “Olney Hymns.” Nomor 41, pada buku I, mengandung kisah hidup Newton dalam versi: Amazing grace, how sweet the sound, That saved a wretch like me; I once was lost but now am found, Was blind but now I see. ‘Twas grace that taught my heart to fear, And grace my fears relieved; How precious did that grace appear, The hour I first believe. Through many dangers, toils and snares, I have already come; ‘Tis grace hath brought me safe thus far, And grace will lead me home.  Perjalanan hidupnya berakhir di tahun 1779, pergi untuk melayani dua gereja di London. Di sana dia mencurahkan semua tenaganya untuk melayani Tuhan dengan setia hingga hayatnya tiba, 21 Desember 1807, di usia 82.
Di nisannya tertulis seperti berikut: “John Newton, Pejabat, seseorang yang dahulunya penentang Kristen dan penganut kebebasan, yang, oleh anugerah yang kaya dari Tuhan dan Juruslamat kita, Yesus Kristus, dijaga, dibaharui, diampuni, dan diurapi untuk memberitakan iman yang dahulu sangat berusaha dihancurkan olehnya, hampir 16 tahun di Olney di Bucks, dan 28 tahun di gereja ini.”Kemudian ditambahkannya,”Dan saya dengan sangat serius mengharapkan bahwa tidak ada monumen lain dan tulisan lain kecuali hal yang dituliskan ini, yang dibuat atas nama saya.”
Tuhan, buatlah aku sadar akan dosa-dosaku. Buatlah aku sadar juga dengan anugerah-Mu yang agung – anugerah-anugerah kehidupan setiap hari dan anugerah keselamatan yang ajaib dan indah.
Amazing  Grace Lirik
1. Amazing grace! How sweet the sound
That saved a wretch like me!
I once was lost, but now am found;
Was blind, but now I see. 2. ‘Twas grace that taught my heart to fear,
And grace my fears relieved;
How precious did that grace appear
The hour I first believed.
3. Through many dangers, toils, and snares

I have already come;
‘Tis grace that brought me safe thus far,
And grace will lead me home.
4. And when this flesh and heart shall fail,

And mortal life shall cease,
I shall possess, within the veil,
A life of joy and peace.
5. When we’ve been there ten thousand years,

Bright shining as the sun,
We’ve no less days to sing God’s praise
Than when we first begun.

Sumber : http://www.gkigadser.org/index.php?option=com_content&view=article&id=96:sejarah-lagu-qamazing-graceq-john-newton-1725-1807&catid=45:komisi-musik-gereja&Itemid=78