 |
| sumber : google |
Deretan terompet berbaris, macam prajurit gagah siap berperang.
Mendatangi kota, jalanan membeku kelabu, meredam senyum dusun. Terompet
membawa harapan dalam tiap tiupan. Jika ada bocah meminta keriangan di
hari-hari mendung akhir tahun.
Lelaki pemikul terompet di punggung, mungkin tak pernah menyangka,
terompet membawa serta doa perempuan dan anak-anak di beranda rumahnya.
Peluh dan airmata menjelma kilau di tiap nyala warnanya. Aku bertanya
kepada malam, sejauh apa gerimis bisa mengantar harapan pulang.
Lapar dan hujan menerpa, terompet berkerudung plastik, tak boleh
terkena air, harus tetap tegak sampai detik terakhir yang akan dihitung
waktu pergantian tahun. Aku ragu, jika doa tak sungguh teguh
menyertai, mungkinkah terompet bisa bertahan, mewujudkan mimpi baru di
tahun berikut.
Kota butuh terompet, butuh lelaki dan perempuan yang mau menggunting
dan merekat kertas bekas jadi kerucut kokoh berwarna cantik, mampu
berbunyi nyaring, lebih dering dari bunyi panggilan penting di semua
saku, lebih genting dibanding suara petir yang mungkin menghadang pesta
kemenangan di depan mata.
Aku menduga banyak kota seperti kita, tak tahu benar kalau butuh selama
bisa didapat. Selama terompet masih datang menumpang bahu dan
punggung lelaki tak penting, kota dan kita tak akan pernah tahu
terompet dan lelaki yang membawanya ke kota adalah penting. Itu
sebabnya aku melihat segerombolan lelaki lain yang merasa dirinya
penting di kotaku, mengusir lelaki pembawa terompet, menyingkirkan
harapan yang digelar terompet di jalan-jalan kota.
Peraturan, kata para lelaki pengusir terompet kepada para lelaki yang
memikul terompet di punggungnya. Pengusir terompet mengendarai truk
bertubuh tembaga, kusam dan asam dipandang. Mungkin truk merasa iri dan
dengki pada terompet yang seksi, berwarna cerah, dan berumbai-rumbai.
Aku hanya bisa melambai, tidak dengan tanganku, ketika para lelaki
pembawa terompet lari berhamburan dari jalan-jalan kota, sembunyi di
gang-gang dan tikungan. Seperti perempuan dan anak-anak dusun, aku masih
menaruh harapan pada terompet.
Seperti perempuan dan anak-anak dusun, aku percaya terompet tak akan
menyerah. Serupa prajurit paling tangguh, terompet akan kembali ke
jalanjalan kota membawa harapan, menawarkan keriangan seharga lima ribu rupiah bagi yang siapa saja yang berani bergembira, meniupkan keriangan
di penghujung waktu.
 |
| ilustrasi sumber : google |
Setelah pesta kemenangan usai, tahun berganti, lelaki pembawa terompet
kembali pulang kepada dusun, kepada perempuan dan anak-anaknya. Tanpa
terompet dipunggungnya tentu. Prajurit yang baik hanya akan pulang
dengan kenangan, dan kemenangan yang siap ditukar dengan segala impian.
“Apa kau tahu, di pesta kemenangan, para lelaki pengusir terompet akan
mencari lelaki pembawa terompet, bahkan rela menukar lima ribu rupiahnya
dengan sebuah terompet untuk menyenangkan perempuan dan anak-anaknya ?”
tiang listrik tiba-tiba berbisik padaku, mengedipkan sinarnya sejenak,
benar sejenak saja, segera tegak kembali menerangi jalanjalan kota*