Kekerasan Seksual pada anak
Istilah pacaran sungguh sangat tidak asing di masa sekarang ini. Bahkan anak usia SD pun sudah nampak sangat fasih bicara soal pacaran. Mungkin ini akibat maraknya lagu menyebutkan kata cinta, pacar, sayang, dan lain sebagainya
Surat Untuk Nona Rambut Tabongkar 2
Teruntuk beta pung Nona rambut tabongkar tersayang... Apa kabar, sayang? Entah ini hari yang ke berapa katong su sonde saling bertegur sapa. Ya. Bukan waktu yang lama memang, tapi su cukup untuk membuat beta merindukan senyum dan sapaan hangat dari nona.
Kamu pasti tau kenapa ini tercipta....
SEPI bukan berarti HILANG... DIAM bukan berarti LUPA... JAUH bukan berarti PUTUS... SENDIRI bukan berarti MATI... Yang pasti saat MATI, tentu SENDIRI....
Pada Suatu Hari....
Pasti akan ada satu hari. Di mana kamarku mendadak senyap. Tanpa celotehan dan suara nada dering ponsel, serta tak ada lagi suara dari putaran kipas angin laptop.
Belajar dari Lentera Alam Learning Community for Women and Children
Kemarin perempuan muda, cantik dan bersahaja itu berkata pada saya, "tak harus mengeluarkan banyak uang untuk bisa membahagiakan dan menyenangkan anak-anak
Senin, 14 Januari 2013
Love is Blind
Sabtu, 12 Januari 2013
Di negeriku, jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung, tapi....
Di negeriku,
jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung, tp fasilitas dan pelayanan kesehatan yang mutakhir hanya untuk mereka yg berduit.......
jumlah rumah ibadahnya nyaris tak terhitung, tp film asing yg lebih mendidik dan menghibur di larang masuk, sementara sinetron yg membodohi rakyat dibiarkan diputar di seluruh stasiun televisi.....
jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung, tp perpustakaannya nyaris tak terurus....
jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung, tp masih banyak anak yg putus sekolah krn ketiadaan dana....
jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung, tp perilaku korupnya tumbuh seperti jamur....
jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung, tp laki2nya masih memandang perempuan sebagai warga kelas dua....
jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung, sehingga dengan lantang berteriak menolak miyabi datang, tp justru dari pejabat, artis mahasiswa dan anak sekolahannya mengoleksi film bokepnya miyabi dan bahkan mempraktekkan gaya miyabi.....
jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung dan dibangun dengan megah, tp di sana-sini masih banyak yg tak punya rumah sehingga harus tinggal di kolong jembatan.....
jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung, tp kekerasan dalam rumah tangga masih sering dianggap wajar....
jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung, tp lebih doyan mengirim tenaga produktifnya ke luar negeri daripada membuka lapangan pekerjaan.....
jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung, tp kalo belanja di mall walaupun barangnya mahal tetap dibeli tak pake tawar, sedangkan kalo belanja di pasar tradisional, sudah barangnya murah tp masih ditawar lagi.....
jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung, tp pencuri semangka proses hukumnya cepat sedangkan pencuri duit negara nyaris tak tersentuh, dilindungi bahkan dielu-elukan.....
jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung, tp kerukunan umat beragamanya hanya slogan pemanis bibir......
jumlah rumah ibadahya nyaris tak terhitung, tp yg nikmati dana subsidi untuk rakyat miskin justru mereka yg mampu...
jumlah rumah ibadahnya nyaris tak terhitung, tp kesehatan bagi ibu2 dan anak2 hanya sebatas propaganda....
jumlah rumah ibadahnya nyaris tak terhitung, tp para veteran perangnya tak terurus dan bahkan diusir seperti kawanan anjing pencuri .....
jumlah rumah ibadahnya nyaris tak terhitung, tp lembaga2 eksekutif, legislatif dan yudikatifnya lebih senang bermain petak umpet (Kucing kaleng) dari pada memikirkan nasib rakyatnya.....
jumlah rumah ibadahnya nyaris tak terhitung dan selalu disesaki oleh umatnya masing2 saat beribadah...tp ........................................?????????
Senin, 12 November 2012
Hachiko: A Dog's Story (2009)
Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor doggy kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan doggy dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun.
Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali.. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.
Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.
Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko.
Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.
Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan doggynya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.
Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada doggynya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan," saya akan menunggu tuan kembali."
" doggy manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!" teriak pegawai kereta setengah berkelakar.
Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,"guukh!"
Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.
Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat koridor kampus.
Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia.
Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.
Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan doggy itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.
Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemudian, dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.
Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.
Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi doggy itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.
Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor doggy yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor doggy yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.
Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor doggy yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. doggy itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.
Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan doggy itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.
Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan doggy itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiko saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiko pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati.
Film ttg kisah hachiko dibuat di jepang tahun 1987 dgn judul "Hachiko Monagatari". Film ini byk memperoleh penghargaan... Dan versi hollywoodnya dibuat dgn judul "Hachiko : A Dog's Story" (Starring and Co-Producted by Richard Gere).
Minggu, 11 November 2012
ANDREAS, SI TUKANG PARKIR
Setiap hari dia ada di tepi jalan raya. Tetapi, dia bukan anak jalanan. Dia juga bukanlah polisi lalu-lintas. Dia hanyalah seorang tukang parkir. Oleh teman-teman sejawatnya, pria ini biasa disapa Andreas. Dari pria kelahiran Soe, 36 tahun lalu inilah, kisah ini bermula.
Aisah Muhammad
Perjalanan hidup telah mengantarnya ke tempat ini. Tepatnya di halaman Toko Bali Shoes Kupang. Dulu, setelah menamatkan pendidikan di SMA, Andreas mengikuti Tes Polisi. Dua kali tes itu diikuti. Tapi, dewi fortuna belum berpihak kepadanya.
Andreas lalu mengikuti Tes Satpam. Dua kali juga tes ini diikutinya. Tapi, lagi-lagi keberuntungan seakan menjauhinya. Andreas tetap saja tidak lulus. Maka pada tahun 1995, pria berkulit hitam manis ini memutuskan untuk menjadi Tukang Parkir. Sebuah pekerjaan yang tentunya membutuhkan pengorbanan fisik yang tidak main-main.
Memang, sudah 17 tahun Andreas menekuni profesinya ini. Tapi, tak ada kata menyerah. Apalagi kapok lalu meninggalkan pekerjaan kasar ini. Baginya, setiap pekerjaan adalah rahmat dari Tuhan. Tinggal bagaimana kita mencintai pekerjaan tersebut. Maka, pekerjaan tersebut akan balik mencintai kita. “Kalau sudah begitu, seberat dan sesulit apapun pekerjaan yang kita kerja, dapat kita selesaikan dengan baik. Dan akan mendatangkan hasil yang baik pula buat kita,” ungkapnya.
Dari pekerjaan sederhana ini, pria yang telah memiliki tiga anak ini mampu memenuhi semua kebutuhan rumah tangganya. Juga keperluan sekolah anak-anaknya. “Ya, dengan penghasilan begini pas-paslah kita penuhi kebutuhan. Pas untuk bisa makan minum. Juga buat urus anak to,” akunya.
Pengorbanan Andreas pantaslah diacungi jempol. Betapa tidak, setiap hari dia harus bekerja selama 8 jam. Mulai dari jam 10 pagi dan berhenti sejenak pada jam 2 sore. Jam 5 sore, Andreas kembali melanjutkan tugasnya hingga jam 9 malam.
Jika dikalkulasikkan secara jujur, jumlah jam kerjanya melampaui jam kerja seorang pegawai negeri sekali pun. Karena tak ada kata libur baginya dalam sepekan. Meski begitu, gajinya tak sebanding dengan banyaknya keringat yang ia teteskan.
Belum lagi banyak hambatan yang ditemukan di tempat kerjanya. Ketika menghadapi para pemilik kendaraan, para pengguna jalan, serta para sopir kendaraan yang selalu memandang sepele pada dirinya.
Tetapi, berkat semangat dan keluhuran niat, Andreas pantang menyerah. Selalu berpikir positif, pandai menahan amarah dan selalu tersenyum adalah jurus-jurus jitu yang senantiasa dia gunakan dalam meluluhkan hati setiap orang yang dihadapinya.
Dengan seragam rompi biru, sebuah topi lusuh, sebuah pluit dan sebuah tongkat setengah meter, Andreas mulai memandu jalannya rute parkir. Layaknya seorang polisi yang mengatur jalannya arus lalu-lintas, Andreas tak segan mengomandokan berhenti dan maju bagi setiap kendaraan yang di depannya.
Setiap kendaraan yang mulai memarkir kendaraan di area kerjanya, dia mulai mengatur posisi masuk. Lalu memberikan secarik karcis seharga Rp. 1.000. Menyilakan pemilik kendaraan berlalu. Menjaga keberadaan dan keselamatan kendaraan adalah bagian dari tanggung jawabnya yang tidak mudah. Karena letak area parkir adalah di tepi jalan persis di muka toko.
Kendati berat pekerjaan yang dihadapi, pria paruh baya ini punya mimpi yang besar. “Saya kan tamat SMA saja to. Jadi saya punya mimpi saya punya anak-anak bisa sarjanalah. Itu juga sudah jadi prinsip saya. Supaya dia bisa lebih dari dia punya bapak,” tegasnya dengan nada sedikit berkelakar.
Bila diperhatikan, sinar di matanya tak dapat menyembunyikan, betapa dia adalah suami yang bertanggung jawab bagi istrinya. Juga sebagai bapak yang bertanggung jawab atas masa depan anak-anaknya. Semoga mimpi dan harapannya tercapai.














