Kekerasan Seksual pada anak

Istilah pacaran sungguh sangat tidak asing di masa sekarang ini. Bahkan anak usia SD pun sudah nampak sangat fasih bicara soal pacaran. Mungkin ini akibat maraknya lagu menyebutkan kata cinta, pacar, sayang, dan lain sebagainya

Surat Untuk Nona Rambut Tabongkar 2

Teruntuk beta pung Nona rambut tabongkar tersayang... Apa kabar, sayang? Entah ini hari yang ke berapa katong su sonde saling bertegur sapa. Ya. Bukan waktu yang lama memang, tapi su cukup untuk membuat beta merindukan senyum dan sapaan hangat dari nona.

Kamu pasti tau kenapa ini tercipta....

SEPI bukan berarti HILANG... DIAM bukan berarti LUPA... JAUH bukan berarti PUTUS... SENDIRI bukan berarti MATI... Yang pasti saat MATI, tentu SENDIRI....

Pada Suatu Hari....

Pasti akan ada satu hari. Di mana kamarku mendadak senyap. Tanpa celotehan dan suara nada dering ponsel, serta tak ada lagi suara dari putaran kipas angin laptop.

Belajar dari Lentera Alam Learning Community for Women and Children

Kemarin perempuan muda, cantik dan bersahaja itu berkata pada saya, "tak harus mengeluarkan banyak uang untuk bisa membahagiakan dan menyenangkan anak-anak

Sabtu, 23 November 2013

Kekerasan Seksual pada Anak

Anak-anak, Pacaran, dan Seks 



Istilah pacaran sungguh sangat tidak asing di masa sekarang ini. Bahkan anak usia SD pun sudah nampak sangat fasih bicara soal pacaran. Mungkin ini akibat maraknya lagu menyebutkan kata cinta, pacar, sayang, dan lain sebagainya. Saat anak kecil makin akrab dengan aktifitas pacaran, di kalangan orang dewasa nampaknya pacaran tak lagi menjadi sesuatu yang memusingkan. Pacaran sebagai bentuk komitmen malah tak dianggap serius, bahkan berkembang yang namanya open relationship, alias punya pacar tapi masih boleh main kesana kemari dengan orang lain.


Kalau anak kecil mungkin sudah pacaran dengan bergandengan tangan dan cium-cium pipi, orang dewasa (sebut saja berumur banyak kalau kelakuannya tidak mencerminkan kedewasaan) nampaknya sudah terlibat dengan aktifitas seksual yang lebih jauh. Kencan atau pacaran adalah bagian dari perkembangan kehidupan normal seseorang. Namun jika kencannya eksklusif, maka nampaknya hubungan seksual sudah terjadi.
Anak yang cepat memulai hubungan pacaran, kebanyakan merupakan anak yang hubungan dengan orangtuanya tidak dekat. Kebutuhannya akan perlekatan dialihkan pada orang lain. Remaja yang memulai seks dini, lebih banyak tidak menggunakan pengaman sehingga menempatkan mereka pada infeksi menular seksual (IMS) dan kehamilan sebelum usia yang matang. Sebuah survei di Amerika Serikat tahun 2006-2008 mengatakan bahwa tidak semua remaja seksual aktif mengambil risiko tinggi dalam hubungan seksual. 39% perempuan dan 33% laki-laki hanya berhubungan dengan pasangannya saja.
Masalahnya adalah, dari hubungan model open relationship yang disertai aktifitas seksual, maupun anak yang berpacaran di usia dini, banyak risiko kesehatan baik mental maupun fisik yang harus dihadapi. Tak hanya itu, isu kekerasan juga menjadi permasalahan pelik dalam sebuah hubungan. Seringkali mereka sulit meninggalkan pasangannya karena merasa telah melampaui hubungan yang lebih dekat. Sehingga meski kekerasan terjadi (verbal, seksual, maupun fisik) individu tersebut tidak juga beranjak pergi dari pacarnya.
Kekerasan Seksual
Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan berdasarkan pembedaan berbasis gender yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman terjadinya perbuatan tersebut, pemaksaan atau perampasan kebebasan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di ruang publik maupun di dalam kehidupan pribadi.
Pandangan masyarakat yang umumnya memandang kekerasan seksual hanya sebatas pelanggaran terhadap kesusilaan memicu munculnya pandangan bahwa hal ini adalah persoalan moralitas semata. Perempuan ditempatkan sebagai penanda kesucian dan moralitas dari masyarakatnya. Akibatnya, jika terjadi sesuatu pada diri perempuan, ia merasa malu untuk menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang dialaminya. Sikap korban kekerasan seksual yang menutupi apa yang dialaminya, tidak jarang justru mendapat dukungan dari keluarga ataupun lingkungannya. Akhirnya perempuan tersebut malah kehilangan haknya karena dianggap memiliki aib.
Pada dasarnya, siapa saja dapat menjadi korban dari kekerasan dan/atau kekerasan seksual. Kekerasan seksual dapat berdampak buruk dan mempengaruhi kesehatan (fisik maupun psikis) untuk jangka waktu yang lama. Oleh karena itu penting bagi orang yang lebih dewasa, terutama keluarga, untuk membantu mencegah terjadinya kekerasan seksual. 
Apa yang Bisa Kita Lakukan?. 
Pertama, sebagai orang tua, kita harus mulai bicara sebelum terjadi sesuatu. Seperti pepatah mengatakan “sedia payung sebelum hujan”, sebaiknya mulailah menjelaskan pada anak atau orang yang lebih muda (terutama anak-anak) mengenai bagian khusus dari diri mereka. Jelaskan bahwa ada area tertentu yang tidak boleh disentuh orang lain, dan mereka boleh saja untuk mengatakan TIDAK ketika mereka tidak mau disentuh. Serta jelaskan pada mereka bahwa jangan ragu untuk bercerita ketika ada yang melanggar batasan yang telah dibuat.
Kedua, komunikasi terbuka adalah pencegahan paling efektif. Jelaskan pada mereka bahwa Anda tertarik dan bersedia diajak bicara pada topik apapun di sekitarnya, mulai dari sekolah, olahraga, teman atau apapun. Perhatikan kejadian sehari-hari di sekitar yang dapat menjadi pelajaran bagi mereka, bersikaplah sebagai teman tidak sebagai guru, dalam kondisi santai atau tenang dan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Kemudian ajarkan mereka bagian-bagian tubuh mereka, terutama bagian tubuh khusus dan apa dampaknya ketika disentuh.
Ketiga, menyadari bahwa kemampuan anak dalam mengembangkan dirinya dan berelasi dapat melindungi dirinya dari hal buruk di atas. Tingkatkan kepercayaan diri anak sehingga tidak mudah dipengaruhi orang lain. Berikan kesempatan dalam pelatihan kepemimpinan atau pengembangan diri agar anak mengenali dirinya dan dapat melawan ketika dipermalukan atau mengalami kekerasan. Tingkatkan kepekaan anak terhadap apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain, sehingga bukan hanya menjadi korban tapi juga tidak menjadi pelaku.
Terakhir, jelaskan pada anak bahwa pelaku kejahatan dapat merupakan orang sekitar, dan awal kejahatan mungkin saja tidak disadari. Ingatkan anak bahwa kapanpun ia merasa tidak nyaman ia dapat dan harus berkata tidak. Serta jangan ragu bercerita kepada Anda apabila terjadi masalah ataupun pertanyaan ke depannya.
 

Jumat, 22 November 2013

Buku : Tidak Ada Negara Agama...

Buku ini adalah buku kedua dari buku trilogi pemikiran ketua umum PGI: Pdt. DR. A. A. Yewangoe.

Dalam buku ini, beliau melanjutkan bukunya yg pertama, ia mengupas berbagai persoalan sensitif yang muncul akibat euforia reformasi dan otonomi daerah, seperti antara lain: keberadaan partai-partai berbasis agama (termasuk partai Kristen), terjunnya para pendeta ke dalam kancah politik praktis sebagai calon anggota legistlatif partai tertentu, dan perda-perda bernuansa syariat keagamaan.

Dengan gaya yang kritis dan tajam, ia menyoroti permasalahan itu sambil
berdialog secara kritis dengan para penulis Kitab Suci dan para pemikir masa lalu seperti Agustinus, Calvin, Luther, dan Karl Barth. Di samping kaya akan perspektif, buku ini juga mengundang warga gereja menjadi warga negara yg bertanggung jawab.

Anda berminat ???? segera dapatkan buku ini di toko buku Kristen di kota anda

Kamis, 21 November 2013

Berbicara dengan Hati, Bukan Jari....

"Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu. "
-- Eric Schmidt, CEO Google

ADIL jengkel betul dengan istrinya. Sepanjang liburan akhir pekan keduanya sepakat memilih beristirahat di rumah. Lima hari bekerja membuat mereka ingin melemaskan otot-otot. Sekaligus tentu saja mempererat tali cinta diantara mereka berdua. Maklum, mereka belum lagi genap dua tahun menikah. Buah hati yang menjadi dambaan mereka tak kunjung datang. Mungkin Yang Di Atas belum memberikan mereka kepercayaan. Begitu keduanya menghibur diri.

Tapi akhir pekan yang seharusnya indah justeru berubah menyebalkan. Seharian Anita, sang istri, hanya berada di kamar. Mungkin saja letih. Dia ingin istirahat penuh. Namun yang membuatnya jengkel, Anita terus menggenggam gadget kesayangannya. Anita kadang tertawa sendiri. Sampai kadang dia tak ingin jauh dari colokan listriknya. Gadget kesayangannya itu sering kehilangan tenaga, sehingga terpaksa harus dicharge.

Adil geleng-geleng kepala. Namun Anita cuek bebek. Katanya, dia sedang asyik mengobrol dengan teman yang lama tak dijumpainya. Bertemu di jejaring sosial facebook, mereka kemudian bertukar nomor PIN. Lalu itulah yang terjadi, mereka mengobrol ngalor-ngidul sesuka hati. Adil pun memilih untuk keluar rumah dan mengobrol dengan tetangga.

Ponsel cerdas itu menjadi booming di dunia, termasuk Indonesia. Apalagi setelah beberapa tokoh dunia dan seleb memakainya juga. Kelebihan menggunakan gadget ini dibandingkan dengan ponsel biasa memang beragam, misalnya saja layanan push mail, menerima dan membalas email yang masuk pada saat itu juga. Atau mengambil foto dan mengirimkannya ke handai taulan di luar negeri dalam sekejap. Lalu ada pula fasilitas chatting, browsing, hingga fasilitas online berbagai situs jejaring sosial. Kedekatan seseorang di dunia maya seakan-akan tidak lagi terpisahkan oleh ruang dan waktu. Tak aneh bila kemudian muncul istilah, ‘mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.’

Namun memakai gadget ini bukan tak ada kekurangannya sama sekali. Contohnya, ya itu, interaksi antara Adil dan Anita menjadi tak nyaman. Ketika seseorang berasyik masyuk dengan dirinya dan dunianya sendiri, serta tidak memperdulikan lingkungan sekitar, apalagi menjadikannya sebagai ketergantungan yang sangat, maka menurut anak zaman sekarang dikatakan terkena 'gejala autis'. Tapi bukankah merujuk peribahasa, ’man behind the gun’, bahwa baik-buruknya penggunaan teknologi tergantung si pemakainya? Betul. Bila pemakainya memakai dengan bijak, tentu tak masalah. Sebaliknya pun demikian.

Tapi nyatanya memang, menurut penelitian, ketergantungan akan gadget menyebabkan seseorang menjadi tak fokus. Bahkan para uskup senior di Liverpool, Inggris menantang umatnya untuk berpuasa teknologi selama 40 hari. Mereka mendorong masing-masing orang untuk memangkas penggunaan karbon dengan tidak memakai sejumlah gadget. Tingkat ketergantungan pemakai gadget memang sungguh luar biasa. Hingga muncul istilah, ’it is heaven for business owners, but hell for employees’.

Gadget dibuat dengan tujuan membantu si pemakainya. Untuk menjadikan urusan berjalan dengan efektif dan efisien. Ambil satu contoh, misalnya saja ketika diadakan rapat penting. Saat dalam rapat membutuhkan komunikasi rahasia di antara peserta rapat, tentu saja cara yang cerdas dengan menggunakan gadget yang tersedia.

Tetapi pada kenyataannya, yang kerap kita jumpai, teknologi yang awalnya dirancang untuk membantu kehidupan manusia, malah justeru membuat kita semakin menjauh satu dengan lainnya. Menjauh dari orang-orang yang kita kasihi, dan menjauh pula dari Tuhan yang sesungguhnya dekat dengan kita.

Dengarlah apa yang dikatakan Eric Schmidt, CEO Google, dalam pidatonya di University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 18 Mei 2009 lalu dihadapan enam ribu wisudawan. Schmidt berujar, “Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu.” Schmidt mengatakan demikian setelah melihat banyaknya kaum muda yang hanya terpaku pada dunia virtual di internet. Seakan tak peduli untuk berelasi dengan orang lain.

Itulah yang dirasakan Adil sekarang. Ia merasa jauh sekali dari istrinya. Adil sesungguhnya tak menuntut lebih dari Anita. Adil hanya ingin Anita menghentikan sekali saja pada saat mereka berada di rumah. Apalagi disaat-saat mereka sedang berdua atau liburan. Baginya komunikasi yang baik bukan lagi semata dengan jari-jari, walau teknologi sudah maju. Berbicara dengan tatap muka, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh tentu lebih memanusiakan diri.

Kita seharusnya memang dapat berhenti sejenak dari kegaduhan dunia virtual dan kembali pada ‘habitatnya’ sebagai makhluk sosial.

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media Komputindo, 2009

Lima Film Baru yang Diangkat dari Novel Remaja

Sejak kesuksesan seri film “Harry Potter” dan “Twilight”, studio-studio besar di Hollywood berlomba-lomba untuk menciptakan franchise film remaja berikutnya. Meski ada yang memiliki awal menjanjikan seperti “The Hunger Games” (2012), ada juga yang harus menghadapi kerugian seperti “Percy Jackson: Sea of Monsters” (2013).

Tahun ini, penonton telah disuguhi dengan “Beautiful Creatures” dan “The Mortal Instruments: City of Bones” yang sama-sama kandas di pasaran. Meski kerap gagal, film-film adaptasi dari novel remaja tak berhenti diproduksi. Tren pembuatan film dari novel remaja mungkin nantinya perlahan mati, namun sampai tahun depan Hollywood masih akan mencoba memasarkan film-film sejenis. Beberapa bisa saja berhasil menjaring penggemar baru, sisanya mungkin akan langsung dilupakan orang.

Apa saja film-film berisiko ini? Berikut adalah lima film adaptasi novel remaja yang akan segera dirilis:


1. Ender’s Game
Dirilis tahun 1985, “Ender’s Game” adalah novel remaja paling tua dalam daftar ini. Cerita fiksi ilmiah karangan Orson Scott Card ini sudah lama menarik minat berbagai studio film, tapi baru sekarang kisah hidup Ender Wiggin akhirnya dapat muncul di layar lebar. Gavin Hood yang merupakan penggemar bukunya terlibat sebagai penulis naskah dan sutradara. Keterlibatan Hood dalam film ini sudah cukup lama, karena ia sudah menulis konsep awal naskah “Ender’s Game” empat tahun yang lalu.
ender's game

Meski bukunya punya banyak penggemar dan filmnya sudah lama dinanti, proyek “Ender’s Game” cukup terganggu ketika beberapa waktu lalu diboikot oleh Geeks Out. Posisi Card yang dikenal cukup frontal menentang kaum Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (LGBT) membuat dirinya kehilangan simpati dari banyak penggemar film fiksi ilmiah yang tidak sependapat dengan opininya. Lionsgate Entertainment sendiri secara diplomatis menjaga jarak dengan Card serta meyakinkan bahwa pandangan sang novelis sama sekali tidak berpengaruh pada pengembangan filmnya.

Sinopsis: Di masa depan, ras alien berbahaya yang disebut Formics telah menyerang Bumi. Bila bukan karena kehadiran pahlawan legendaris dari International Fleet Commander bernama Mazer Rackham (Ben Kingsley), Bumi pasti telah hancur. Sebelum serangan besar lainnya menyusul, Kolonel Hyrum Graff (Harrison Ford) pun mencari anak-anak muda berbakat untuk dijadikan penerus dari Rackham. Ender Wiggin (Asa Butterfield), seorang anak laki-laki pemalu dengan otak brilian, terpilih untuk masuk dalam pelatihan ini. Kemampuan Ender yang menonjol di sekolah ini pun dianggap sebagai harapan besar dari pihak militer. Di bawah ajaran dari Mazer Rackham sendiri, Ender pun mencoba untuk menjadi pemimpin dari pasukan penyelamat Bumi.

Sutradara: Gavin Hood
Pemeran:
Asa Butterfield (Ender Wiggin), Hailee Steinfeld (Petra Arkanian), Abigail Breslin (Valentine Wiggin), Harrison Ford (Colonel Hyrum Graff), Ben Kingsley (Mazer Rackham), Viola Davis (Major Gwen Anderson)
Tanggal Rilis:
1 November 2013 (Amerika Serikat)

2. Seventh Son
Seperti beberapa film dalam daftar ini, “Seventh Son” yang diadaptasi dari “The Spook’s Apprentice” karya Joseph Delaney tadinya akan dirilis di bulan Februari. Tetapi, perpisahan antara Legendary Pictures dan Warner Bros. membuat hak distribusi film ini berpindah ke Universal Pictures. Sungguh disayangkan, karena “Seventh Son” akhirnya digeser rilisnya menjadi Januari, bulan dimana banyak film gagal untuk mencetak pendapatan besar. Film terakhir Jeff Bridges sendiri, “R.I.P.D.”, baru saja rugi besar. Kalau “Seventh Son” juga nantinya bernasib sama, Universal pasti akan sangat kesal karena kedua film ini dirilis di bawah distribusi mereka. 
Seventh Son

Sinopsis: Master Gregory (Jeff Bridges) adalah seorang ksatria yang telah memenjarakan penyihir jahat dengan kekuatan besar bernama Mother Malkin (Julianne Moore). Setelah terkurung selama ratusan tahun, Mother Malkin akhirnya meloloskan diri dan kini berniat untuk balas dendam. Dengan waktu yang sangat terbatas, Master Gregory pun bergegas mencari seorang murid baru. Pilihannya jatuh pada Tom Ward (Ben Barnes), putra ketujuh dari seorang ayah yang juga merupakan anak ketujuh. Tapi, bila Gregory biasanya punya waktu tahunan untuk melatih muridnya, kali ini ia harus melatih Tom hanya dalam hitungan hari demi menghadapi teror Madam Malkin.

Sutradara: Sergey Bodrov
Pemeran: Ben Barnes (Tom Ward), Jeff Bridges (Master Gregory), Julianne Moore (Mother Malkin), Alicia Vikander (Alice), Kit Harington, Olivia Williams
Tanggal Rilis: 17 Januari 2014 (Amerika Serikat)


3. Vampire Academy
Sutradara film “Mean Girls” (2004), Mark Waters, mencoba untuk membawa elemen-elemen yang menjadikan film tersebut sukses ke dalam “Vampire Academy”. Waters mencoba untuk meyakinkan bahwa filmnya akan berbeda dengan hasil adaptasi novel remaja pada umumnya yang kelewat serius. Ia menjelaskan bahwa film yang disutradarainya ini punya muatan humor dan lebih ringan. Tapi jujur saja, trailer “Vampire Academy” sama sekali tidak terlihat menjanjikan. Bila nanti hasil filmnya seburuk materi promosinya, sepertinya akan ada banyak penggemar seri buku karangan Richelle Mead yang menangis darah.

Vampire Academy
Sinopsis: Kaum vampir dibagi menjadi dua kubu, Moroi yang hidup damai di antara manusia dan hanya meminum darah dari donor sukarela, serta Strigoi yang membunuh demi mendapatkan darah manusia. Di St. Vladimir’s Academy Rose Hathaway (Zoey Deutch) yang merupakan seorang Dhampir – makhluk setengah manusia setengah vampir – belajar untuk menjadi pelindung kaum Moroi. Namun, ketika Rose bersama Lissa Dragomir (Lucy Fry) kabur dari sekolah dan tertangkap, ia pun harus berusaha untuk melindungi sahabatnya itu di dari dalam St. Vladimir’s Academy, tempat yang kini dianggapnya tak aman.

Sutradara: Mark Waters
Pemeran: Zoey Deutch (Rose Hathaway), Sarah Hyland (Natalie Dashkov), Danila Kozlovsky (Dimitri Belikov), Lucy Fry (Lissa Dragomir), Joely Richardson (Queen Tatiana), Gabriel Byrne (Victor Dashkov)
Tanggal Rilis: 14 Februari 2014 (Amerika Serikat)


4. The Maze Runner
Dengan menampilkan sekumpulan remaja yang mencoba untuk bertahan hidup di tengah tempat tertutup yang berbahaya, mau tak mau “The Maze Runner” pasti akan dibandingkan dengan “The Hunger Games”. Tetapi, bila “The Hunger Games” punya Katniss Everdeen dan plot percintaan yang lumayan menonjol, “The Maze Runner” yang ditulis oleh James Dashner punya tokoh utama remaja pria amnesia yang lebih banyak bergelut dengan misteri daripada romansa. Variasi perspektif sangat penting supaya adaptasi novel remaja tidak terlihat sama satu dengan yang lain. Lagipula, novel remaja tak semuanya bercerita mengenai seorang gadis remaja kuat yang mencoba untuk mengguncangkan sistem atau menyelamatkan dunia, ‘kan? 
The Maze Runner

Sinopsis: Thomas (Dylan O’Brien) terbangun dalam sebuah lift tanpa ingatan apapun kecuali namanya sendiri. Ia pun masuk ke dalam sebuah tempat yang dinamakan The Glade, dimana 60 remaja putra harus belajar hidup bersama di sebuah lingkungan berbahaya yang dikepung oleh sebuah labirin. Meski telah berada di sana selama beberapa tahun, belum ada yang pernah lolos keluar labirin ini. Tiap 30 hari, seorang remaja baru pun tiba di tempat ini melalui lift yang sama. Suatu hari, penghuni baru The Glade datang. Namun, tidak seperti biasanya, orang baru yang datang adalah seorang gadis koma yang membawa sebuah catatan aneh. Setelahnya, segala sesuatu pun mulai berubah.

Sutradara: Wes Ball
Pemeran: Dylan O'Brien (Thomas), Will Poulter (Gally), Kaya Scodelario (Teresa), Thomas Brodie-Sangster (Newt), Patricia Clarkson (Ava Paige), Aml Ameen (Alby)
Tanggal Rilis: 14 Februari 2014 (Amerika Serikat)


5. Divergent
Dibandingkan beberapa film lain di daftar ini, “Divergent” termasuk salah satu yang dijagokan untuk mencetak kesuksesan. Pertama, seri novel karya Veronica Roth ini punya banyak penggemar. Kedua, Shailene Woodley sebagai pemeran utama punya rekam jejak akting yang mengesankan melalui “The Descendants” (2012) serta “The Spectacular Now” (2013). Plus, Kate Winslet juga turut bergabung sebagai pemeran antagonis. Sang sutradara, Neil Burger, memang belum teruji untuk membuat film dengan banyak adegan aksi. Namun, melalui “Limitless” (2011) dan “The Illusionist” (2006), Burger telah membuktikan bahwa dengan materi yang menarik, ia dapat membuat sebuah film yang menghibur.

Divergent
Sinopsis: Di masa depan, dunia terbagi dalam beberapa faksi – Candor bagi yang jujur, Abnegation bagi yang tidak mementingkan diri sendiri, Dauntless bagi yang berani, Amity bagi yang menyukai kedamaian, serta Erudite bagi yang cerdas. Tris Prior (Shailene Woodley) yang telah dewasa diharuskan untuk memilih satu faksi yang harus dipegangnya teguh seumur hidup. Meski akhirnya membuat pilihan tersebut, Tris menyimpan sebuah rahasia besar. Dirinya adalah seorang “divergent” yang berarti bahwa ia tidak benar-benar pas untuk faksi manapun. Dalam dunia yang dihuninya, hal ini bisa mendatangkan kematian bagi Tris. Tetapi, rahasia ini dapat digunakannya untuk menyelamatkan orang-orang yang dikasihinya. Meski demikian, bila salah langkah, justru ini akan membahayakan nyawa mereka.

Sutradara: Neil Burger
Pemeran: Shailene Woodley (Beatrice 'Tris' Prior), Kate Winslet (Jeanine Matthews), Miles Teller (Peter), Theo James (Four), Ashley Judd (Natalie Prior), Ray Stevenson (Marcus Eaton)
Tanggal Rilis: 21 Maret 2014 (Amerika Serikat)

Sumber : Yahoo