Kekerasan Seksual pada anak

Istilah pacaran sungguh sangat tidak asing di masa sekarang ini. Bahkan anak usia SD pun sudah nampak sangat fasih bicara soal pacaran. Mungkin ini akibat maraknya lagu menyebutkan kata cinta, pacar, sayang, dan lain sebagainya

Surat Untuk Nona Rambut Tabongkar 2

Teruntuk beta pung Nona rambut tabongkar tersayang... Apa kabar, sayang? Entah ini hari yang ke berapa katong su sonde saling bertegur sapa. Ya. Bukan waktu yang lama memang, tapi su cukup untuk membuat beta merindukan senyum dan sapaan hangat dari nona.

Kamu pasti tau kenapa ini tercipta....

SEPI bukan berarti HILANG... DIAM bukan berarti LUPA... JAUH bukan berarti PUTUS... SENDIRI bukan berarti MATI... Yang pasti saat MATI, tentu SENDIRI....

Pada Suatu Hari....

Pasti akan ada satu hari. Di mana kamarku mendadak senyap. Tanpa celotehan dan suara nada dering ponsel, serta tak ada lagi suara dari putaran kipas angin laptop.

Belajar dari Lentera Alam Learning Community for Women and Children

Kemarin perempuan muda, cantik dan bersahaja itu berkata pada saya, "tak harus mengeluarkan banyak uang untuk bisa membahagiakan dan menyenangkan anak-anak

Senin, 01 April 2013

Aku rindu. Itu saja…

Ada saat-saat rindu muncul dengan sangat tidak tahu diri. Seperti sekarang, contohnya. Saat rasa dan logika menolak untuk berkompromi. Saat apa yang berusaha diucapkan bibir dan dilakukan tubuh, sulit menipu apa yang diinginkan hati. Saat apa yang biasanya selalu ada, kini sangat sulit untuk ditemui. Sebuah rasa kehilangan itu memang egois. Ia bisa hadir begitu saja meski sebelumnya tak pernah diawali oleh ‘memiliki’. Lalu dengan seenaknya meninggalkan rongga besar, membuat segala sesuatu terasa tidak lengkap lagi.
Ikhlas. Itu yang sering orang katakan padaku. Namun ikhlas itu tak sesederhana enam huruf berbeda yang membentuknya. Perlu segenap keberanian dan komitmen kuat untuk bisa melakukannya. Dan aku masih belajar. Dan akan terus belajar. Karena memang itu satu-satunya hal yang bisa aku lakukan untuk saat ini. Apa lagi?
Seandainya kamu ingat, dulu kamu selalu meyakinkanku bahwa kamu tidak akan pergi terlalu jauh. Meyakinkanku bahwa kamu akan selalu ada di sekitarku, di dalam jangkauan, meskipun pada kenyataannya tidak persis seperti itu, aku tetap percaya kamu tidak sedang berbohong. Entahlah, ternyata rasa percaya terkadang juga bisa begitu membingungkan. Terlebih lagi rasa percaya yang tanpa alasan. Setidaknya, bukan alasanku, mungkin alasan-Nya.
Dan kerinduan ini. Dengan apa lagi bisa kuredam dalam-dalam selain dengan secuil kenangan dan beberapa bait doa memohon kelapangan hati. Manusia memang terkadang begitu manja dan takut sendiri. Dan di saat-saat seperti inilah aku merasa begitu manusia. Dengan sebuah lubang besar di suatu tempat yang terlindung oleh rusuknya. Manusia yang sedang merasa kehilangan, merasa sendirian.
Dan di tengah kerinduan, aku duduk di kamar ini, menerawang ke satu tempat yang jauh di mana kamu sempat ada. Lengkap dengan segala macam cerita, senyum bahkan tawa, serta sorot mata yang begitu meneduhkan. Lengkap dengan adanya ‘kita’. Dan mungkin dengan adanya sebuah rasa yang sama-sama tak pernah kita ungkapkan tapi kita tahu bahwa ia nyata.
Seandainya suatu saat apa yang kutulis ini sampai di tanganmu dan kamu sulit mencernanya, tak usah memaksakan diri untuk mengerti. Ada kesimpulan yang sangat singkat dan aku yakin akan sangat mudah untuk kamu pahami. Aku rindu. Itu saja…

Sabtu, 30 Maret 2013

Surat Untuk Nona Rambut Tabongkar (1)


Dear Nona Rambut Tabongkar....

Sebagai permulaan, aku akan katakan. Apa yang aku tulis ini bukan puisi, cerita fiksi, atau sejenisnya. Bukan surat cinta, apalagi surat kaleng atau surat kabar. Aku hanya akan menulis sesuatu, entah apa, yang nantinya (mungkin) akan kamu baca dan (kuharap) akan kamu ingat.
Mungkin ini hanya sebuah racauan yang tak begitu penting, tentang hal-hal yang terlalu rumit untuk dirangkai dalam kata-kata. Kata-kata yang sama rumitnya sekalipun. Terkadang ada hal-hal yang terlalu luar biasa, yang hanya bisa dirasa. Tulisan, ucapan atau apapun itu, tak akan bisa menceritakannya dengan utuh.
Jadi, mungkin ini hanya tulisan tentang apa yang seharusnya dirasa, yang aku coba ungkapkan tapi tak juga kutemu caranya.
Berbelit-belit. Iya, aku sadar. Aku masih mencari cara yang tidak biasa untuk sampaikan sesuatu yang luar biasa ini. Aku tak ingin keluarbiasaannya berkurang barang setitik.
Baiklah, sebenarnya aku juga bingung dengan apa yang sudah kutulis dan apa yang akan kutulis.
Maaf sudah membuang waktumu untuk membaca sesuatu yang bahkan tak ada intinya sama sekali. Aku menulis ini, karena aku ingin terus menuliskan sesuatu untukmu, itu saja…

love u...

wesly

Sabtu, 19 Januari 2013

Satu Lagi, Kisah Anjing Yang Setia

Anjing Ini ke Gereja Tiap Hari, Menanti Tuannya yang Meninggal.
Anjing bernama Tommy dan tuannya bernama Maria setiap hari berjalan kaki bersama ke gereja. Di gereja pastor mengizinkan
anjing itu duduk di dekat kaki Maria. Setelah tuannya meninggal, anjing masih rutin datang ke gereja dan duduk di dekat altar.
Pastor Donato Panna, sebagaimana dikutip Mail Online, Rabu (16/1), mengatakan, "Anjing itu berada di sana setiap kali saya merayakan misa dan selalu berperilaku baik. Anjing tersebut tidak berisik. Saya tidak mendengar sekali pun anjing itu mengonggong sepanjang berada di dalam (gereja). Anjing itu dulu biasa datang misa bersama Maria dan anjing itu jelas berbakti padanya. Saya membolehkannya tinggal di dalam (gereja) karena anjing itu selalu berperilaku sangat baik dan tidak ada umat lain yang mengeluh kepada saya. Anjing itu masih datang misa bahkan setelah pemakaman Maria, anjing tersebut menunggu dengan sabar di sisi altar dan hanya duduk tenang di sana. Saya tidak tega mengusirnya. Saya baru saja kehilangan anjing saya sendiri sehingga saya membiarkannya di sana sampai selesai misa dan kemudian saya mengarahkannya keluar."

Jumat, 18 Januari 2013

Tony Melendez - Sang Gitaris Tanpa Tangan


Terkadang kita merasa ingin menyerah dengan keadaan derita yang mendera? Atau merasa diri kita tidak bisa melakukan apa-apa karena kekurangan fisik? Terkadang kita mengharapkan terlahir sempurna dengan segala bakat melimpah. Kenyataan tidak selalu seperti itu. Kita mungkin tidak bisa mengubah keadaan itu, namun bisa memaksimalkannya. Jika itu yang kalian rasakan, mari kita belajar pada sosok yang mengagumkan saya ini.
Mungkin ada di antara kita yang sudah pernah mendengar mengenai Tony Melendez. pemuda kelahiran Nicaragua. Ia lahir dengan tanpa kedua lengan. Tentu saja kenyataan ini menyedihkan bagi kedua orangtuanya. Namun mereka mencoba memahami rencana besar Tuhan di balik itu semua.
.
Mari kita belajar dari Tony. Belajar untuk tidak menyerah dan menyalahkan orang lain, apalagi Tuhan. Belajar bersyukur dan mengembangkan diri. Semoga kita bisa memetik satu pelajaran darinya. Pada tanggal 15 September 1987, adalah saat-saat yang tak terlupakan, ketika Tony Melendez bermain gitar untuk Paus Paulus Yohanes II di Los Angeles. Dilahirkan tanpa lengan, Tony menampilkan sebuah lagu yang sangat menyentuh berjudul Never Be The Same. Ketika Paus mendekati dan menciumnya dengan penuh perasaan, saat itu paus seperti mewakili perasaan semua orang di seluruh negeri.
“Never Be The Same” adalah lagu yang tepat yang menggambarkan moment2 yang merubah kehidupan Tony Melendez dan menjadikannya seorang gitaris yang menarik perhatian negerinya. Lagu itu sangat cocok menceritakan seorang laki laki yang menghabiskan hidupnya dengan yakin diatas ketidaksempurnaannya.

Berikut ini saya bagikan penampilan Tony saat membawakan lagu Never Be The Same,