Kekerasan Seksual pada anak

Istilah pacaran sungguh sangat tidak asing di masa sekarang ini. Bahkan anak usia SD pun sudah nampak sangat fasih bicara soal pacaran. Mungkin ini akibat maraknya lagu menyebutkan kata cinta, pacar, sayang, dan lain sebagainya

Surat Untuk Nona Rambut Tabongkar 2

Teruntuk beta pung Nona rambut tabongkar tersayang... Apa kabar, sayang? Entah ini hari yang ke berapa katong su sonde saling bertegur sapa. Ya. Bukan waktu yang lama memang, tapi su cukup untuk membuat beta merindukan senyum dan sapaan hangat dari nona.

Kamu pasti tau kenapa ini tercipta....

SEPI bukan berarti HILANG... DIAM bukan berarti LUPA... JAUH bukan berarti PUTUS... SENDIRI bukan berarti MATI... Yang pasti saat MATI, tentu SENDIRI....

Pada Suatu Hari....

Pasti akan ada satu hari. Di mana kamarku mendadak senyap. Tanpa celotehan dan suara nada dering ponsel, serta tak ada lagi suara dari putaran kipas angin laptop.

Belajar dari Lentera Alam Learning Community for Women and Children

Kemarin perempuan muda, cantik dan bersahaja itu berkata pada saya, "tak harus mengeluarkan banyak uang untuk bisa membahagiakan dan menyenangkan anak-anak

Kamis, 23 April 2015

BUKU : MEMAHAMI SURAT DAKWAAN

Surat dakwaan merupakan salah satu dokumen penting dan penentu dalam proses penegakan hukum kasus pidana. Surat dakwaan yang dibuat oleh Jaksa dalam kedudukannya sebagai Penuntut Umum, menjadi dasar pemeriksaan perkara dalam persidangan di pengadilan. Hakim (Majelis Hakim) dalam hal putusan pemidanaan suatu perkara pun, haruslah didasarkan pada surat dakwaan.

Terbitnya buku Memaham iSurat Dakwaan ini, dilatarbelakangi oleh keprihatinan Perkumpulan Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR NTT) terhadap: Pertama, rendahnya pemahaman masyaraka tadat, kaum miskin, kelompok perempuan korban kekerasan, dan kelompok marginal lainnya tentang surat dakwaan. Kedua, Penuntut Umum secara sengaja maupun tidak sengaja, sering kali membuat surat dakwaan yang tidak sempurna.

Secara substansial, buku Memahami Surat Dakwaan ini menjelaskan materi tentang arti pentingnya surat dakwaan dalam proses penegakan hukum suatu kasus pidana, sekaligus menguraikan seluk-beluk surat dakwaan dan bagaimana mengkritisinya.

Buku ini didesain secara praktis untuk mengisi ruang kosong dari pemahaman para pihak tentang surat dakwaan. Buku ini diharapkan dapat menjadi bacaan alternatif yang bermanfaat bagi setiap individu yang ingin memahami tentang surat dakwaan.

Judul Buku : Memahami Surat Dakwaan
Penulis : Paul SinlaEloE
Kata Pengantar: Sarah Lery Mboeik
Editor: RagilSupriyanto & Yes Balle
Layout/Design Sampul : Sukriwul
Penerbit : PIAR NTT
ISBN : 978-602-71102-3-2
Dimensi : 13,5 x 20 cm
Ketebalan : x + 74 Halaman
Bahasa : Indonesia
Cetakan I : Januari 2015

Jumat, 06 Juni 2014

I do not like plankton, but I love the one of the fans of plankton

He lives down under the sea,
And is as energetic as a bumblebee.
He likes to impress his boss,
Who's Mr. Krabs and hates money to be at a loss.
His best friend's Patrick Star,
Who he travels with near and far.
Then there's Sandy who's a geek,
And then there's Pearl who always weeps.
Plankton is always up to no good,
And Larry who's weights drop with a thud.
Squidward wants to be the superstar of dance,
Who am I thinking of? SpongeBob SquarePants!

SSssstt,,,,,I do not like plankton, but I love the one of the fans of plankton

Kamis, 05 Juni 2014

Kulit Permen Sugus

Sstttt...kau bicara dengan pembungkus permen sugus yg sudah kosong, selembar kemasan plastik berwarna cerah, diam di atas meja, pasrah menunggu waktunya dicampakkan ke tempat sampah. Kau tanyakan padanya bagaimana rasanya ketika tangan manusia memisahkannya dengan sebongkah butiran manis yang biasanya dijaganya dengan setia.

Bungkus permen diam saja, tak mau berbagi rasa, sampai kau putus asa, mengancam akan segera membuangnya. Bungkus permen tetap diam. Kau dekatkan ke wajah, mungkin tak kau dengar jawabnya. Tercium sisa aroma manis dan sejuk dari selembar kecil berbahan plastik. Seakan berkata,”Tak ada yang sia-sia,” dalam semua bahasa. Kau teringat rasa manis permen sugus, sudah sepenuhnya lumer, tertelan tak bersisa.

Bosan dengan kebisuannya, kau campakkan bungkus permen ke tempat sampah. Tak lagi kau ajak bungkus permen sugus bicara, hanya kau dekatkan ke wajah, kau hirup jejak aroma manisnya ketika permen sugus dalam mulutmu telah habis tak bersisa. Kau hirup kuat-kuat, sebelum kau campakkan ke tempat sampah.

Selasa, 20 Mei 2014

Alasan

Selalu ada alasan…
Mengapa kamu ingin mengejar mimpi
Mengapa kamu bisa berada di kota itu sekarang
Mengapa ada hal-hal yang tak pernah kau ucap, namun selalu kudengar

Pasti ada alasan…
Mengapa saat itu kita ada di tempat yang sama
Mengapa kamu bisa bertemu seorang teman lama
Dan akhirnya tak ada lagi kita

Kuyakin, dia punya alasan…
Untuk menyuruhmu tawarkan secangkir kopi sebelum saatnya gereja

Meski tertunda menjadi temu yang berbeda
Dan buat waktu berlalu tanpa terasa

Segala sesuatu tentu ada alasan…
Segala sesuatu akan indah pada waktunya....
Seperti yang pernah kamu katakan sedih itu ada batas nya
dan senang itu ada ending nya....Nikmati saja ...

Sabtu, 25 Januari 2014

Tentang GUS DUR


Oleh : Saras Dewi

Pada tahun 1999, setahun paska reformasi bergulir, saya berkesempatan berkunjung ke Jalan Irian Menteng bersama kolega/teman-teman pergerakan. Disanalah saya pertama kali bertemu dengan Gus Dur. Saya masih 16 tahun, tapi Ayah saya sudah memberitahu saya sebelumnya bahwa orang yang duduk bersama saya adalah orang yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Sedari muda saya sudah paham, mengapa Gus Dur sangat berarti bagi perubahan di Indonesia.

Pertemuan dengan Gus Dur malam itu merubah hidup saya. Karena beliau saya percaya bahwa Indonesia punya kesempatan untuk menjadi bangsa maju, menjadi bangsa yang kaya akan kultur, budaya, agama dan dapat saling hidup berdampingan. Semasa beliau menjabat menjadi presiden menurut saya hanya kebaikan yang secara maksimal ia berikan, banyak orang mencibir administrasi beliau, tapi untuk saya dialah Presiden yg tepat semasa itu. Ia mengesahkan rekognisi terhadap agama Konghucu, beliaulah yang berani menyatakan bahwa etnis TiongHoa kini dapat berbangga diri menjadi bagian bangsa Indonesia ketika perayaan Imlek dijadikan hari libur nasional. Ia memecat Jend. TNI Wiranto yang memiliki dakwaan pelanggar HAM dari International Human Rights Tribunal. Ia mencabut tentara-tentara dari daerah operasi militer seperti di Aceh dan Irian. Beliau membuka dialog dengan Irian Jaya dan dengan diplomatik mengatakan bahwa mereka bebas menggunakan term 'Papua'.

Gus Dur adalah seorang pemberontak yang humoris, ketika musuh-musuh politiknya memperolok dan mengancamnya, dengan gaya yang berkelas ia hanya mengatakan, "Gitu aja kok repot?"

Gus Dur bukanlah semata-mata seorang tokoh masyarakat yang bijaksana, tapi beliau juga seorang Ayah dan Suami yang sempurna. Saya tahu ini, karena saya menyaksikan bagaimana ia mendidik anak-anaknya. Salah satu putrinya, Inayah Wahid adalah sahabat saya, kami kerap bekerja sama dalam organisasi 'Gerakan Positif' untuk menumbuhkembangkan pluralisme di Indonesia. Saya merasa sangat bersyukur dapat terlibat di dalam kegiatan Wahid Institute, para aktivis Muslim ini memberikan saya harapan, bahwa perdamaian bukanlah konsep belaka, tetapi suatu proses, bila kita berkemauan keras dan tegar dalam mewujudkannya.

Dalam acara ulang tahun Ibu Shinta Nuriyah, istri dari Gus Dur, saya diminta untuk memimpin doa mewakili umat Hindu. Dengan bahagia saya menerima undangan tersebut, saya membacakan Gayatri Mantram dan mendoakan kesehatan dan kebahagiaan Ibu Shinta. Ibu Shinta memuji doa umat Hindu dengan mengatakan bahwa bahasa sansekerta sedemikian indahnya. Saya terharu, karena Gus Dur dan Ibu Shinta begitu menghargai komunikasi antar agama, ini menjadi penyemangat saya.

Ketika FPI mengancam membakar gereja dan melakukan pemberontakan sipil, Gus Dur-lah beserta pemuda NU yang menjaga gereja-gereja tersebut, beliaulah yang berani berkata benar dan bertindak melawan yang dzalim. Saya merasa kehilangan sekali, tetapi saya teringat di dalam kitab suci Veda, meski sekarang saya patah semangat dan menangis, saya teringat Veda yg mengatakan bahwa meski seorang murid berduka atas kematian gurunya, hal yang lebih penting untuk dilakukan adalah meneruskan perjuangan sang guru.

Saya berharap sekali segenap rakyat Indonesia dapat meresapi ajaran Gus Dur dan meneruskan cita-citanya.

"Wa 'Udkhila Al-Ladhīna 'Āmanū Wa `Amilū Aş-Şāliĥāti Jannātin Tajrī Min Taĥtihā Al-'Anhāru Khālidīna Fīhā Bi'idhni Rabbihim Taĥīyatuhum Fīhā Salāmun"

I Love You Full Gus,

yys.


Sumber : facebook

Minggu, 12 Januari 2014

Alasan Dokter Negara Maju “Pelit” Memberikan Obat ke Anak

BELUM sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dr. Knol.
“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection,” kata dokter tua itu.
“Ha? Just wait and see?” batinku meradang.
Ya, aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain.
“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.
“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”
Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter di sini pelit obat. Karena itu, aku membawa obat dari Indonesia.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya bertambah. Aku kembali ke dokter. Dia tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.
“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?”
Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,
“Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja.”
Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau!
Setibanya di rumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.
“Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya. Mau 37, 38 apa 39 derajat, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!”
Sewaktu praktik menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi secuil-secuil ilmu kudapat. Seperti orang travelling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, dua hari ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas berdiam di Berlin dan Swiss, waktu habis. Tibalah saat pulang ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama. Banyak negara dan kota di Eropa belum disambangi. Itulah kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah yang kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng, kami mengintip resep ajian senior!
Setelah Malik sembuh, Lala, putri pertamaku sakit. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia. Batuknya tak hilang dan ingusnya masih meler. Lima hari kemudian, Lala kubawa ke huisart.
“Just drink a lot,” katanya ringan.
“Apa nggak perlu dikasih antibiotik, Dok?” tanyaku tak puas.
“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.
Lalu ngapain dong aku ke dokter,tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq!
“Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak.”
Ternyata isi obat Thyme itu hanya ekstrak daun thyme dan madu.
Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia.
Putriku sembuh. Sebulan kemudian sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit.
“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya?”
Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,”Nothing to worry. Just a viral infection.”
“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,”
Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. “Do you know how many times normally children get sick every year?”
“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat,” sambungnya.
Aku pulang dengan perasaan malu. Barangkali si dokter benar, aku selama ini kurang belajar.
Setelah aku beradaptasi dengan kehidupan di Belanda, aku berinteraksi dengan internet. Aku menemukan artikel Prof. Iwan Darmansjah, ahli obat-obatan Fakultas Kedokteran UI.
“Batuk – pilek beserta demam yang terjadi 6 – 12 bulan masih wajar. Observasi menunjukkan kunjungan ke dokter terjadi 2 – 3 minggu selama bertahun-tahun.”
“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan penanganannya, Pertama, obat diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi.
Duuh…kemana saja aku selama ini. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho!.
Di Belanda ‘dipaksa’ tak pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak, kondisi anakku jauh lebih baik. Mereka jarang sakit.
Aku tercenung mengingat ‘pengobatan rasional’. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yg kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan aku panik dan membawa ke dokter, sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional!
Sistem kesehatan Belanda menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.
Aku baru mengetahui ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga banyak negara termasuk Amerika Serikat, dipakai secara luas untuk anak-anak. Tetapi resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen tersedia di apotek dan boleh digunakan usia anak diatas 6 bulan, di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama anak demam.
Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan. Karena kekurangan dan ketidakmampuan penyakit anak sehari-hari, orang desa relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, cukup berduit, melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.
Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?
Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!
Aku sadar. Telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‘hanya’ konsultasi, memastikan diagnosa penyakit dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.
Di Indonesia, ke dokter = dapat obat?
Sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi.
Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan. []
Dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrum,

Kamis, 09 Januari 2014

Coffeelove

Dia menyeduh kopi
Entah cappucino, arabika atau robusta.
Saya cuma ingin menyeduh Dia.
Dia yang akan saya beri nama...
mungkin cinta.
Bisa kupahami hatinya yang baik itu.
Pada waktunya aku mesti kau lepas..pergi...

Senin, 06 Januari 2014

Buku : Perempuan Kopi

Tiga belas cerita dalam buku ini merupakan cerita hidup yang nyata dan dekat dengan manusia di belahan dunia mana pun yang tidak merdeka. Bahkan beberapa orang atau pihak mungkin mencoba menepisnya. Kisah hitam pendudukan bangsa sendiri pada "Palang Bambu Daun Sirih" misalnya, bisa jadi bukan cerita yang menarik untuk dikenang penguasa negeri ini. "Perempuan Kopi" menguak kesewenangan aparatus negara dan lembaga agama terhadap petani demi pembelaan kepada kuasa pemodal. Pendudukan di satu sisi dan perjuangan di sisi lainnya, yang mewarnai hampir seluruh cerita di buku ini, apa boleh buat, menampakkan negara berhadapan dengan warga dan lelaki berhadapan dengan perempuan, bukan bergandengan.

Jumat, 03 Januari 2014

Semoga aku tak terlanjur berlalu

Mari kita menepi dan sedikit berefleksi diri
Di suatu tempat, yang seharusnya kau lengkapi
Tak apa, toh aku tak benar-benar sendiri
Aku sedang berbincang dengan beberapa lapis kenangan yang menolak pergi

Lampu jalan, angin malam, sekotak ketenangan
Disusul potongan-potongan senyum saat kutipan candamu melintas di ingatan
Benar, aku memang seorang pikun yang kadang sulit melupakan
Juga seorang kikuk yang terlalu pandai menjahit khayalan

Tulisan ini, mungkin tak berarti apa-apa
Selain racauan asal dari hati yang mencoba legawa
Atau gejolak dari noda-noda rindu yang tersisa?
Mungkin saja…

Aku cukup tau diri bahwa aku sudah tak kau butuhkan lagi saat ini...
Yang jelas kamu pasti tahu, aku sangat membutuhkanmu...

ahh...sudahlah...
lanjutkan semua peranmu dalam panggung sandiwara ini..
dalangi semua kalut ini hingga kau bertemu jemu..
semoga aku tak terlanjur berlalu...

Selasa, 31 Desember 2013

Lelaki Pemikul Terompet vs Lelaki pengusir Terompet

sumber : google

Deretan terompet berbaris, macam prajurit gagah siap berperang. Mendatangi kota, jalanan membeku kelabu, meredam senyum dusun. Terompet membawa harapan dalam tiap tiupan. Jika ada bocah meminta keriangan di hari-hari mendung akhir tahun.

Lelaki pemikul terompet di punggung, mungkin tak pernah menyangka, terompet membawa serta doa perempuan dan anak-anak di beranda rumahnya.  Peluh dan airmata menjelma kilau di tiap nyala warnanya. Aku bertanya kepada malam, sejauh apa gerimis bisa mengantar harapan pulang.

Lapar dan hujan menerpa, terompet berkerudung plastik, tak boleh terkena air, harus tetap tegak sampai detik terakhir yang akan dihitung waktu pergantian tahun. Aku ragu, jika doa tak sungguh teguh menyertai, mungkinkah terompet bisa bertahan,  mewujudkan mimpi baru di tahun berikut.

Kota butuh terompet, butuh lelaki dan perempuan yang mau menggunting dan merekat kertas bekas jadi kerucut kokoh berwarna cantik, mampu berbunyi nyaring, lebih dering dari bunyi  panggilan penting di semua saku, lebih genting dibanding suara petir yang mungkin menghadang pesta kemenangan di depan mata.

Aku menduga banyak kota seperti kita, tak tahu benar kalau butuh selama bisa didapat. Selama  terompet masih datang menumpang bahu dan punggung lelaki tak penting, kota dan kita tak akan pernah tahu terompet dan lelaki yang membawanya ke kota adalah penting. Itu sebabnya aku melihat segerombolan lelaki lain yang merasa dirinya penting di kotaku, mengusir lelaki pembawa terompet, menyingkirkan harapan yang digelar terompet di jalan-jalan kota.

Peraturan, kata para lelaki pengusir terompet kepada para lelaki yang memikul terompet di punggungnya. Pengusir terompet mengendarai truk bertubuh tembaga, kusam dan asam dipandang. Mungkin truk merasa iri dan dengki pada terompet yang seksi, berwarna cerah, dan berumbai-rumbai. Aku hanya bisa melambai, tidak dengan tanganku, ketika para lelaki pembawa terompet lari berhamburan dari jalan-jalan kota, sembunyi di gang-gang dan tikungan. Seperti perempuan dan anak-anak dusun, aku masih menaruh harapan pada terompet.

Seperti perempuan dan anak-anak dusun, aku percaya terompet tak akan menyerah. Serupa prajurit paling tangguh, terompet akan kembali ke jalanjalan kota membawa harapan, menawarkan keriangan seharga lima ribu rupiah bagi yang siapa saja yang berani bergembira, meniupkan keriangan di penghujung waktu.

ilustrasi sumber : google

Setelah pesta kemenangan usai, tahun berganti, lelaki pembawa terompet kembali pulang kepada dusun, kepada perempuan dan anak-anaknya. Tanpa terompet dipunggungnya tentu. Prajurit yang baik hanya akan pulang dengan kenangan, dan kemenangan yang siap ditukar dengan segala impian.

“Apa kau tahu, di pesta kemenangan, para lelaki pengusir terompet akan mencari lelaki pembawa terompet, bahkan rela menukar lima ribu rupiahnya dengan sebuah terompet untuk menyenangkan perempuan dan anak-anaknya ?” tiang listrik tiba-tiba berbisik padaku, mengedipkan sinarnya sejenak, benar sejenak saja, segera tegak kembali menerangi jalanjalan kota*

Rabu, 25 Desember 2013

Panggil Dia Maria Magdalena Rubinem

Catatan Kaki Jodhi Yudono
 
Maria Magdalena Rubinem saat berusia 25 tahun/dok pribadi

Ini kali saya hendak bercerita tentang seorang seniman tua. Dia seorang perempuan yang hanya pernah saya dengar namanya, namun tak pernah sekali pun berjumpa dengannya. Sekilas saya memang sempat mendengar suaranya saat saya masih kanak-kanak. Kini, saya hendak menjumpainya secara langsung. Siapa tahu, saya masih bisa menikmati sisa-sisa keindahhan suaranya.
Nama lengkapnya Maria Magdalena Rubinem, karena dia terlahir sebagai seorang Katolik. Tapi sehari-hari dia cukup dipanggil Rubinem saja.
Rubinem, ya mbah Rubinem, sebab dia memang perempuan Jawa yang kini sudah 88 usianya. Rubinem, menurut KTPnya lahir di Yogyakarta pada tahun 1927. Namun menurut pengakuan perempuan sepuh itu, sebetulnya dia lahir pada tahun 1925.
Saya menemuinya pada malam hari, ketika warung yang sekaligus dijadikan sebagai tempat tinggalnya telah tutup. Mbah Rubinem hanya menyisakan pintu warungnya terbuka setengah untuk menunjukkan penghuninya belum berangkat tidur.
Malam itu saya memang bermaksud menemuinya, sekedar ingin "sowan" sebagai rasa hormat saya kepada beliau yang telah berjasa di dunia seni Indonesia. Setidaknya, dia pernah menghibur banyak orang melalui keindahan suaranya.
Rubinem. Ya, dialah pesinden yang cukup kondang di Yogyakarta dan sekitarnya antara tahun 1948 hingga awal 80an. Maklumlah, sebab antara tahun 1948 sampai tahun 1972 Rubinem menjadi pesinden Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta.
Ketika saya datang, Mbah Rubinem langsung menyalami saya dengan hangat. Lalu katanya, saya tak boleh melakukan apapun selain makan malam terlebih dahulu untuk mencicipi gudegnya. "Sampun kulo siapke, monggo dahar rumiyin," kata Rubinem dalam bahasa Jawa halus yang artinya, 'sudah saya siapkan, silakan makan dahulu.'
Saya pun dengan hikmat menikmati gudeg olahan Mbah Rubinem yang garing dan hitam kecoklatan. Di piring yang saya pegang, Rubinem menambahkan krecek, areh, daging ayam, dan semur telur ayam. Hmmm... rasanya nikmat, perpaduan antara manis dan pedas menimbulkan sensasi yang ramai di mulut.
"Kados pundi rasanipun?" Mbah Rubinem bertanya, bagaimana rasa gudegnya.
Saya pun mengacungkan ibu jari sebagai pertanda masakan Rubinem lezat.
Sehabis makan malam, saya pun mulai bertanya berbagai hal, terutama perjalanan dan pengalaman hidup Mbah Rubinem.
***
Rubinem belajar nyinden dari para seniman di Keraton Yogyakarta, di antaranya eyangnya seniman Djadug, diakui rubinem sebagai gurunya. Setelah itu, ia terjun langsung manggung sejak 1942. Meski tak sekolah, ia bisa membaca dan menulis. Akhirnya, ia bekerja di RRI Yogyakarta pada 1948, seusai agresi kedua Belanda. “Saya menjadi pemain apa pun pada acara yang berbau budaya Jawa, entah dagelan, ketoprak, uyon-uyon, dan wayang,” tutur Rubinem.
Sejak menjadi pesinden tetap di RRI Yogyakarta itulah, nama dan suara Rubinem mulai dikenal luas. Lantunan suaranya kian mantap. Akhirnya, sebulan sekali, ia dipercaya pentas di RRI Jakarta. Rubinem pun manggung berkali-kali di Istana Negara, sejak 1951, di hadapan Presiden Soekarno.
Karena kepopulerannya itulah, Rubinem pun melanglang ke berbagai kota di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, hingga Banyuwangi. Bagi Rubinem, tahun 1960-an merupakan zaman keemasannya. Sebulan ia bisa mendapatkan tanggapan sampai 40 kali.
“Kulo nate angsal honor Rp 500 ribu. Meniko honor ingkang inggil wekdal samanten," tutur Rubinem yang artinya, dirinya pernah mendapat honor Rp 500 ribu, dan itu merupakan honor yang sangat tinggi untuk sinden pada saat itu.
Dari hasil manggung, ia memiliki dua rumah, beberapa petak tanah, mobil, emas-berlian, dan seperangkat gamelan. Tak ada waktu untuk diam. Malam manggung, siang hari ia masih mempunyai kesibukan untuk menjadi pedagang emas-berlian di Pasar Beringharjo, Yogyakarta.
Setelah mengalami banyak kesulitan dalam perkawinan, akhirnya ia menikah dengan Agustinus Subardi, duda berputera satu. Rupanya bahtera rumah tangga Rubinem menjumpai banyak gelombang. Berbagai persoalan melanda kehidupan pribadinya. Akhirnya, ia memilih menjanda. Karena tidak punya keturunan, Rubinem mengangkat tiga anak yang semua dididiknya sampai mandiri dalam berumah tangga.
Jika kini Rubinem membuka warung nasi gudeg di kompleks Terminal Jombor, Sleman, awalnya hanyalah sekadar untuk pengisi kesibukan. Hartanya sebagai mantan sinden kondang masih cukup untuk menghidupi diri, yakni berupa dua rumah dan sepetak tanah yang dikontrakkan, serta satu mobil untuk disewakan.
Sayangnya, perjalanan dan perjuangan hidup Rubinem harus mulai dari awal lagi. Pada 2008, meski atas persetujuannya, anak menantunya menjual seluruh harta-bendanya dan laku Rp 270 juta, untuk investasi di sebuah perusahaan. Ternyata, investasi itu tipu-muslihat belaka.
“Saya bisa stres jika memikirkan itu kembali. Justru dari peristiwa itu, saya semakin mendekatkan diri pada Tuhan, untuk merenungkan perjalanan hidup saya. Akhirnya, saya mendapatkan kepasrahan. Harta saya habis, karena itu bukan rezeki saya. Saya menumpuk harta, selain hasil manggung, juga menjadi rentenir saat menjadi pedagang emas dulu,” akunya.
Baginya, tahun 2008 merupakan tahun petaka sekaligus penghiburan. Tahun itu hartanya habis, namun imbalannya, ia mendapatkan penghargaan dari Persatuan Dalang  Indonesia (Pepadi) Pusat Jakarta. Ia menerima penghargaan Anindya Karya Waranggana. Pepadi bekerjasama
dengan Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian Jakarta memberikan penghargaan kepada Rubinem atas pengabdian dan kesetiaannya melestarikan kesenian tradisi.
Di kios berukuran 21 m2, Rubinem menjalani kehidupannya dalam keikhlasan. Di tempat itu, dia hidup bersama salah seorang anaknya dan seorang cucunya.
“Cucu saya itu sudah besar, dan syukurlah, suka bantu-bantu di warung di sela-sela kesibukan kuliahnya.
Sebisa mungkin, saya akan membiayai kuliahnya,” tekad Rubinem.
Hari-harinya kini banya diisi dengan memasak gudeg untuk para pelanggannya yang sudah ketagihan masakan gudegnya yang kering dan gurih. Bicara soal pelanggan, Rubinem punya pengalaman buruk dengan salah satu pelanggannya.
Ini bermula seusai dirinya mendapat penghargaan seni dari Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi) Pusat Jakarta
pada tahun 2008. Ia beroleh hadiah berupa uang senilai Rp 10 juta. Namun setelah dikurangi pajak dan lain-lain, ia membawa pulang uang Rp 8 juta. Sebagian uang yang diperoleh dari penghargaan tersebut dibelikan sepasang giwang berlian. Rubinem dengan senang mengenakan giwang tersebut di warung. Namun diam-diam, seorang perempuan yang juga pelanggannya tertarik untuk memiliki giwang yang dikenakan Rubinem.
Pada suatu hari, saat warung sepi, perempuan jahat itu pun masuk ke warung Rubinem. Begitu dilihatnya sang pesinden sedang sendiri, ditubruknya perempuan itu seraya memaksanya untuk menyerahkan giwang yang pernah dilihatnya. Rubinem yang segera menyadari dirinya hendak dirampok, segera berteriak minta tolong. Perempuan perampok yang sudah berhasil menelikung dan memukuli Rubinem itu pun segera lari.
Rubinem ya Maria Magdalena Rubinem. Kontras benar kehidupannya antara dahulu dan kini. dulu nama Rubinem terkenal tak terkira di sekitar Yogyakarta. Dia bukan saja sinden yang memiliki suara dan cengkok yang menarik, tapi juga memiliki tubuh dan wajah yang aduhai. itulah sebabnya, tak heran jika dirinya dipuja oleh para lelaki yang menggemari sosoknya.
"Tapi saya bukan perempuan gampangan. Saya susah ditemui oleh penggemar saya, sebab saya nggak pernah mau dijemput oleh pengundang. lebih baik saya datang dan pulang sendiri untuk menghindari fitnah," ujar Rubinem.
Rubinem tidak pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Termasuk harta benda yang pernah dikumpulkan di kala muda dan kini telah habis.  Dia juga tak menyesali bahwa kini dirinya tak lagi popular, dan bahkan tak dikenal.
Jika ada yang dia sayangkan, adalah karena RRI, institusi tempatnya pernah bekerja juga ikut-ikutan melupakan dirinya. Padahal, Rubinem ingin benar datang kembali ke RRI, sekedar untuk mengenang bahwa dirinya pernah menjadi saksi perjalanan radio milik pemerintah itu.
“Saya berharap mereka masih ingat saya, saya ingin kalau RRI ulang tahun saya diundang. Tapi, sejak saya keluar di tahun 1972 sampai sekarang, saya belum pernah diundang. Saya suka sedih kalau mengingat ini.” 

sumber ; tribunnews.com

Selasa, 24 Desember 2013

Natalku dan Nakalmu...

Mereka bilang ini hari natal
Hari saat anak-anak bengal menyesal
Tak dapat hadiah
Dikejar mahluk hitam menakutkan

Hari ini natal
Hari saat aku yang bukan anak-anak tak pantas kesal
Walau semua dongeng santa claus ternyata hanya khayal
Dan pohon natal sudah terlalu mahal

Natal
Cuma rangkaian sebuah kata dengan dua huruf ‘a’
Hingga jika diucap terdengar riang
Seperti cerahnya ruang hati yang dulu dipenuhi mimpi

Natalku
Selalu penuh ingatan tentangmu
Yang terlalu nakal menempati tiap jengkal angan
Sampai aku begitu penuh olehmu, tak ada lagi tempat bagi lain hal

Untukmu
Tak sedikitpun ada ragu sebelum kutukar semua natalku
Dengan nakalmu yang buatku jadi anak bengal tanpa setitikpun sesal

Minggu, 22 Desember 2013

I love my Evlyn Lea Jacob - Balukh....

Mama itu... Paling susah kalo dideskripsikan dgn kata-kata. But, Happy mother's day! Sayangi mama kalian selagi ia masih ada untuk kalian, bagiku hari ibu adalah setiap hari..
I love my Evlyn Lea Jacob - Balukh ♥

Buat kamu, maaf ada 2 sms ucapan yang masih pending x_x
Selamat hari ibu ya, terberkatilah semua ibu, titip salam, cium dan peluk buat ibu di batam ({}) ({})

mungkin lagu bang Iwan Fals ini bisa mewakili perasaanku saat ini....
ini liriknya :

Ibu by Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...
Ibu
Ibu

Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu

Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...
Ibu
Ibu

Kamis, 19 Desember 2013

Kamu pasti tahu kenapa ini tercipta....

SEPI bukan berarti HILANG...
DIAM bukan berarti LUPA...
JAUH bukan berarti PUTUS...
SENDIRI bukan berarti MATI...
Yang pasti saat MATI, tentu SENDIRI....

Tapi....
Lihat, aku masih di sini...
masih punya 2 mata walau tak bisa melihatmu lagi...
masih punya 2 tangan walau tak bisa menyentuhmu lagi...
masih punya 2 kaki walau tak bisa berjalan bersamamu lagi...

Tapi...
aku masih punya 1 lidah yang selalu mengucapkan doa untukmu...
aku masih punya 1 hati yang selalu mengingat dan menyayangimu....

Seperti yang sudah pernah kukatakan padamu :
aku sudah memutuskan
Menjadi orang terbodoh di mata dunia,
dibanding harus berlagak TULI pada satu-satunya hati yang kupunya...

aku lebih memilih SEPI, DIAM, JAUH dan SENDIRI,
daripada harus MENIPU satu-satunya hati yang kupunya...

aku rela kehilangan teman-teman baikku,
daripada harus terus menerus BERTENGKAR dengan satu-satunya hati yang kupunya.....

dan pada akhirnya....
walau kamu tak mungkin membaca ini,
tapi kamu pasti tahu kenapa ini tercipta....






Mama....

Mama…
Sakit rasanya melihatmu lemah
Tergeletak lemas
Dalam dinginnya dinding rumah sakit

Mama…
Sedih rasanya
Melihat infus menggantung
Mengalir menuju darahmu

Mama…
Maafkanlah diriku
Yang telah berdosa
Dan sering menyakiti dirimu

Mama…
Cepatlah pulang
Aku sayang kepadamu
Aku selalu berdoa
Agar dirimu selalu sehat
Dan dilindungi oleh-Nya

Kupang, 7 Desember 2013
@ruang tunggu ICCU RSUD Prof. Dr. W.Z. Johanes Kupang


Selasa, 17 Desember 2013

Hello December....Mumumu

Pada setiap perjumpaan, ada perpisahan yang selalu siap datang kapan saja. Di tengah-tengah suasana yang tampak serba sempurna itu, seseorang yang dulu sempat bertanya tentang cita-cita saya, tiba-tiba mundur teratur dan hilang perlahan. Padahal cita-cita utama saya adalah membuktikan bahwa jawaban saya itu bukan hanya sekadar kalimat klise dan kalau berhasil mewujudkannnya, maka akan saya ajak dia untuk merayakannya sebagai rasa syukur dan terima kasih.
But, well… Life must go on…
Satu pelajaran yang akhirnya benar-benar saya pahami selama setahun ini adalah meskipun saya tampak seolah berjalan sendirian, tapi saya tak pernah benar-benar sendirian. Masih ada pendengar yang lebih baik, yang siap mendengarkan segala cita-cita dan harapan saya tiap waktu, bahkan tak segan-segan untuk mewujudkannya. Ia, yang duduk di atas sana, yang selalu mengawasi juga melindungi saya dan seluruh anak-Nya di dunia… :)
Have a great December! :)

Minggu, 15 Desember 2013

Bisakah...??

Pagi menelan bintang dalam terang, mungkinkah mimpi terukir kembali di pasir pantai di mana kakimu langkahi jejak sunyiku. Bukankah harus ku jaga ruang kosong dibenak demi sempurna kudengar tiap bunyi dan gema suaramu

tentang cahaya senyuman
tentang hangat dekapan
tentang perih tikaman

takkan kupertanyakan apapun lagi; agar kau boleh selalu singgah di beranda rumahku
berbagi sigaret dan secangkir kopi, dan lihat; jejak asap itu buru-buru berhambur ke arah langit membawa ingatan nafasmu pada nikmat tiap hela dan hembus udara, hilang tertiup harum bungamu dan aroma musim hujanku

biar saja semua bentuk mengutuk rasa ; percaya pada tulusnya dosa ; demi rindu, ingin kubaca setumpuk catatan berdebu disudut ruang, satu per satu, sebelum habis waktu; sebelum pahit empedu di lidahmu menyita manis kata-kata di ujung jarimu.

lalu; kita mejelma serangga saja, agar sebutir gula senilai permata
bisakah..??

Sabtu, 14 Desember 2013

Terimakasih black bird....

Seminggu sebelum mama harus dirawat intensif di ruang ICCU RSUD Prof. W.Z. Johanes Kupang, karena pembengkakan jantung. Seorang sahabat, Ambara Saraswati Mardani, memposting salah satu lagu favorit saya, “Negeri di Awan” miliknya Katon Bagaskara, di akun facebooknya. Postingan tersebut dinyanyikan sendiri oleh sahabat saya itu. Suara tipis dan tajam dari sahabat saya ini, serta musikalitas dari seorang Ivan Bartels membuat lagu tersebut terdengar semakin indah dan menusuk hingga sumsum.

Oh iya, ini liriknya:

Di bayang wajahmu
kutemukan kasih dan hidup
yang lama lelah aku cari
di masa lalu
Kau datang padaku
kau tawarkan hati nan lugu
selalu mencoba mengerti
hasrat dalam diri
Kau mainkan untukku
sebuah lagu
tentang negeri di awan
di mana kedamaian menjadi istananya
dan kini tengah kau bawa
aku menuju kesana oh.. hoo
Ternyata hatimu
penuh dengan bahasa kasih
yang terungkapkan dengan pasti
dalam suka dan sedih

Nyanyian tersebut menemani saya selama menjaga mama yang hampir 2 minggu dirawat di RSUD. Lagu ini  meski tak menggunakan langsung kata "ibu", menurut saya lagu "Negeri di Awan" ini berkisah tentang seorang ibu. Majas-majas digunakan untuk menggambarkan mengenai ibu, membuat lagu ini indah sekali. Terimakasih black bird, atas lagu dan suara indahnya....

JIka ingin mendengar suara sahabat saya ini, bisa DOWNLOAD DI SINI

Sabtu, 23 November 2013

Kekerasan Seksual pada Anak

Anak-anak, Pacaran, dan Seks 



Istilah pacaran sungguh sangat tidak asing di masa sekarang ini. Bahkan anak usia SD pun sudah nampak sangat fasih bicara soal pacaran. Mungkin ini akibat maraknya lagu menyebutkan kata cinta, pacar, sayang, dan lain sebagainya. Saat anak kecil makin akrab dengan aktifitas pacaran, di kalangan orang dewasa nampaknya pacaran tak lagi menjadi sesuatu yang memusingkan. Pacaran sebagai bentuk komitmen malah tak dianggap serius, bahkan berkembang yang namanya open relationship, alias punya pacar tapi masih boleh main kesana kemari dengan orang lain.


Kalau anak kecil mungkin sudah pacaran dengan bergandengan tangan dan cium-cium pipi, orang dewasa (sebut saja berumur banyak kalau kelakuannya tidak mencerminkan kedewasaan) nampaknya sudah terlibat dengan aktifitas seksual yang lebih jauh. Kencan atau pacaran adalah bagian dari perkembangan kehidupan normal seseorang. Namun jika kencannya eksklusif, maka nampaknya hubungan seksual sudah terjadi.
Anak yang cepat memulai hubungan pacaran, kebanyakan merupakan anak yang hubungan dengan orangtuanya tidak dekat. Kebutuhannya akan perlekatan dialihkan pada orang lain. Remaja yang memulai seks dini, lebih banyak tidak menggunakan pengaman sehingga menempatkan mereka pada infeksi menular seksual (IMS) dan kehamilan sebelum usia yang matang. Sebuah survei di Amerika Serikat tahun 2006-2008 mengatakan bahwa tidak semua remaja seksual aktif mengambil risiko tinggi dalam hubungan seksual. 39% perempuan dan 33% laki-laki hanya berhubungan dengan pasangannya saja.
Masalahnya adalah, dari hubungan model open relationship yang disertai aktifitas seksual, maupun anak yang berpacaran di usia dini, banyak risiko kesehatan baik mental maupun fisik yang harus dihadapi. Tak hanya itu, isu kekerasan juga menjadi permasalahan pelik dalam sebuah hubungan. Seringkali mereka sulit meninggalkan pasangannya karena merasa telah melampaui hubungan yang lebih dekat. Sehingga meski kekerasan terjadi (verbal, seksual, maupun fisik) individu tersebut tidak juga beranjak pergi dari pacarnya.
Kekerasan Seksual
Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan berdasarkan pembedaan berbasis gender yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman terjadinya perbuatan tersebut, pemaksaan atau perampasan kebebasan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di ruang publik maupun di dalam kehidupan pribadi.
Pandangan masyarakat yang umumnya memandang kekerasan seksual hanya sebatas pelanggaran terhadap kesusilaan memicu munculnya pandangan bahwa hal ini adalah persoalan moralitas semata. Perempuan ditempatkan sebagai penanda kesucian dan moralitas dari masyarakatnya. Akibatnya, jika terjadi sesuatu pada diri perempuan, ia merasa malu untuk menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang dialaminya. Sikap korban kekerasan seksual yang menutupi apa yang dialaminya, tidak jarang justru mendapat dukungan dari keluarga ataupun lingkungannya. Akhirnya perempuan tersebut malah kehilangan haknya karena dianggap memiliki aib.
Pada dasarnya, siapa saja dapat menjadi korban dari kekerasan dan/atau kekerasan seksual. Kekerasan seksual dapat berdampak buruk dan mempengaruhi kesehatan (fisik maupun psikis) untuk jangka waktu yang lama. Oleh karena itu penting bagi orang yang lebih dewasa, terutama keluarga, untuk membantu mencegah terjadinya kekerasan seksual. 
Apa yang Bisa Kita Lakukan?. 
Pertama, sebagai orang tua, kita harus mulai bicara sebelum terjadi sesuatu. Seperti pepatah mengatakan “sedia payung sebelum hujan”, sebaiknya mulailah menjelaskan pada anak atau orang yang lebih muda (terutama anak-anak) mengenai bagian khusus dari diri mereka. Jelaskan bahwa ada area tertentu yang tidak boleh disentuh orang lain, dan mereka boleh saja untuk mengatakan TIDAK ketika mereka tidak mau disentuh. Serta jelaskan pada mereka bahwa jangan ragu untuk bercerita ketika ada yang melanggar batasan yang telah dibuat.
Kedua, komunikasi terbuka adalah pencegahan paling efektif. Jelaskan pada mereka bahwa Anda tertarik dan bersedia diajak bicara pada topik apapun di sekitarnya, mulai dari sekolah, olahraga, teman atau apapun. Perhatikan kejadian sehari-hari di sekitar yang dapat menjadi pelajaran bagi mereka, bersikaplah sebagai teman tidak sebagai guru, dalam kondisi santai atau tenang dan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Kemudian ajarkan mereka bagian-bagian tubuh mereka, terutama bagian tubuh khusus dan apa dampaknya ketika disentuh.
Ketiga, menyadari bahwa kemampuan anak dalam mengembangkan dirinya dan berelasi dapat melindungi dirinya dari hal buruk di atas. Tingkatkan kepercayaan diri anak sehingga tidak mudah dipengaruhi orang lain. Berikan kesempatan dalam pelatihan kepemimpinan atau pengembangan diri agar anak mengenali dirinya dan dapat melawan ketika dipermalukan atau mengalami kekerasan. Tingkatkan kepekaan anak terhadap apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain, sehingga bukan hanya menjadi korban tapi juga tidak menjadi pelaku.
Terakhir, jelaskan pada anak bahwa pelaku kejahatan dapat merupakan orang sekitar, dan awal kejahatan mungkin saja tidak disadari. Ingatkan anak bahwa kapanpun ia merasa tidak nyaman ia dapat dan harus berkata tidak. Serta jangan ragu bercerita kepada Anda apabila terjadi masalah ataupun pertanyaan ke depannya.
 

Jumat, 22 November 2013

Buku : Tidak Ada Negara Agama...

Buku ini adalah buku kedua dari buku trilogi pemikiran ketua umum PGI: Pdt. DR. A. A. Yewangoe.

Dalam buku ini, beliau melanjutkan bukunya yg pertama, ia mengupas berbagai persoalan sensitif yang muncul akibat euforia reformasi dan otonomi daerah, seperti antara lain: keberadaan partai-partai berbasis agama (termasuk partai Kristen), terjunnya para pendeta ke dalam kancah politik praktis sebagai calon anggota legistlatif partai tertentu, dan perda-perda bernuansa syariat keagamaan.

Dengan gaya yang kritis dan tajam, ia menyoroti permasalahan itu sambil
berdialog secara kritis dengan para penulis Kitab Suci dan para pemikir masa lalu seperti Agustinus, Calvin, Luther, dan Karl Barth. Di samping kaya akan perspektif, buku ini juga mengundang warga gereja menjadi warga negara yg bertanggung jawab.

Anda berminat ???? segera dapatkan buku ini di toko buku Kristen di kota anda