Kamis, 07 November 2013

Korupsi Bukan Cobaan ....

Seorang istri yang suaminya ditahan karena korupsi, menjawab
pertanyaan wartawan, "Kami sedang dalam cobaan Tuhan, tolong bantu
kami dengan doa."

Saya tidak begitu yakin, tindak pidana korupsi adalah cobaan dari
Tuhan. Kecuali kalau seseorang berbaik jujur, dipidana karena tindak
korupsi, padahal sebenarnya tidak melakukan korupsi. Nah, itu bisa
digolongkan sebagai cobaan. Artinya, tidak melakukan kesalahan apa-
apa, tapi terkena bencana.

Seperti kalau kita parkir baik-baik di tempat parkir, tahu-tahu
sewaktu hujan turun, pohon tumbang menimpa mobil kita. Itu bisa
masuk kategori cobaan. Di sini tidak ada hubungan langsung sebab
akibat antara parkir yang aman dengan pohon yang tumbang. Dalam
kehidupan keseharian, hal semacam itu bisa terjadi. Kita hidup
dengan baik dan benar dan menjaga kesehatan, tahu-tahu divonis
terkena kanker.

Korupsi yang sering disamakan dengan penyakit kanker - perumpamaan
ini hanya benar dalam hal keganasan - sebenarnya termasuk godaan.
Artinya, si pelaku tergoda memasuki wilayah buruk, padahal
sebenarnya bisa menghindar, dan menerima risiko karena terbongkar.
Ada hubungan sebab-akibat secara langsung. Godaan yang sama, dalam
kaitan sebab-akibat langsung adalah berjudi, selingkuh, ngebut.

Pelaku sudah tahu akibat dari main judi, main perempuan, bisa juga
main lelaki, atau main-main dengan kendaraan berkecepatan tinggi.
Pelaku tetap melakukan, apa pun alasannya, bisa dibikin-bikin, bisa
karena yakin. Kalau kemudian berakhir tidak menyenangkan: kalah
berjudi, selingkuh ketahuan, atau terjadi tabrakan, itu merupakan
konsekuensi logis.

Kadang kita tercengang, atau berang, sedikitnya kurang senang,
ketika seseorang yang kita kenal dengan baik dan terkesan baik dan
benar, ternyata tak bisa menahan godaan. Rasanya, ada yang terluka
dengan rasa percaya, sebagaimana menemukan ulat di buah yang sedang
dikunyah, atau ada kecoa berjalan di mulut kita. Kesadaran batin
kita terguncang, ada suatu gambaran indah yang terbuang, atau bahkan
hilang.

Melihat kenyataan seperti ini, saya hanya bisa menasihati diri.
Untuk tidak melakukan korupsi secara sadar, dan juga membentengi
diri tidak membiarkan diri masuk dalam godaan kolektif secara tidak
langsung tindakan koruptif. Godaan kolektif sering sangat efektif.
Berjudi, selingkuh, atau ngebut menjadi atraktif kalau dilakukan
bersama.

Makanya, berusahalah menahan diri. Sebisanya. Semampunya.

Barangkali menasihati diri harus sering saya ulang, agar selalu ada
dalam memori. Soalnya, kadang kita berhubungan dengan rasa keadilan,
dan terasa timpang. Misalnya, kehidupan para koruptor yang berada
dalam penjara.

Pengalaman membuktikan bahkan dalam penjara sekalipun, para koruptor
atau penyelundup, pemalsu kartu kredit, bandar judi selalu
memperoleh kamar yang lebih mewah dan perlakuan yang wah. Karena
banyak harta yang tersisa.

Barangkali, kalau saya boleh memberi nasihat untuk koruptor: cobalah
sekarang ini seterbuka mungkin. Mengakui, menjelaskan, menelanjangi
diri dengan menceritakan secara detail godaan yang meyebabkan
terjerembab ke dalam korupsi. Bagaimana caranya, metodenya, siapa
saja teman-temannya, berapa yang berhasil diambil. Terutama juga,
berapa yang bakal dikembalikan.

Dengan begini, ia sedikit banyak menebus dosa dan memberi
kemungkinan berkurangnya hal yang sama yang bisa terjadi pada orang
lain. Para penyelidik pun lebih cerdik menghadapi siasat serta liku-
liku tindak korupsi.

Ada saat kita terpeleset karena kebegoan kita, tapi juga selalu ada
kesempatan untuk bangkit kembali, juga dijadikan pelajaran bagi
orang lain. *

Sumber: Korupsi Bukan Cobaan .... oleh Arswendo Atmowiloto,
budayawan, di Jakarta

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.